jump to navigation

Contoh Buruk Dalam Pengelolaan Keuangan Agustus 26, 2008

Posted by pengelolaan keuangan in Etos Keuangan.
trackback

Anda masih ingat Mike ‘Si leher beton’ Tyson ? menurut berita dari AOL Sport News.

“ Mike Tyson is no longer fighting for glory or a heavyweight title. Mike Tyson has $43 million in debts including the $19.4 million he owes in taxes. His profligacy has forced him into indentured servitude to his debtors. “

Sekarang ini, Tyson harus rela meninggalkan segala bentuk kenyamanan dan kemewahan dalam bentuk rumah mewah, mobil, perhiasan. Tahun lalu dia mengajukan upaya perlindungan dari kebangkrutan ke pengadilan untuk merestrukturisasi lagi utang-utangnya. Dan salah satu solusi untuk membayar kembali utangnya, Tyson rela dibayar oleh salah satu TV kabel untuk melakukan pertandingan berdasarkan jumlah penayangan (pay-per-view) (kayak sinetron aja). Bahkan konon Tyson rela pula untuk melakukan adegan ‘film dewasa’ sebagai tambahan penghasilan.

Mungkin cerita diatas membuat banyak orang terhenyak bertanya-tanya ‘bagaimana mungkin sang jawara tinju yang awalnya bergelimang harta jutaan dollar bisa bangkrut dan meninggalkan utang kepada bank termasuk utang pajak’.

Kita semua tentu tidak mau mengalami hal sama seperti apa yang terjadi pada sang jawara tinju diatas. Oleh karenanya pengelolaan keuangan perlu kita lakukan sedini mungkin terlepas posisi kita sekarang pada ‘posisi nyaman’, apalagi kalau kondisi keuangan kita lagi suram.

Sering kita tidak melakukan perencanaan keuangan karena kita takut ‘gaya hidup’ kita terganggu dengan adanya financial planning. Kita mungkin menjadi tidak bebas sebagai konsumen produk fashion tingkat tinggi. Atau mungkin karena kita tidak mempunyai perspektif sasaran atau tidak bisa mendiskripsikan kebutuhan. Tanpa kita sadari adanya kebutuhan yang tersamar dan tidak teridentifikasi, terutama bagaimana pemenuhan kebutuhan untuk masa mendatang, misalnya: berapa besar biaya pendidikan lanjut anak kita.

Selain dari itu, menurut salah satu item data buku Proyeksi Penduduk Indonesia 2005 (Bappenas), prediksi angka harapan hidup (ahh) penduduk Indonesia pada tahun 2025 akan mencapai usia 73,7 tahun. Itu berarti, ahh penduduk Indonesia lebih lama 4,7 tahun dari ahh tahun ini (69 tahun). Karena ahh semakin lama maka demografi penduduk Indonesia akan seperti kondisi demografi pada negara maju dengan fenomena demografi ‘rambut putih’. Dimana jumlah penduduk berusia dewasa dan lanjut akan mendominasi total populasi penduduk.

Dari prediksi peningkatan usia harapan hidup seperti diatas, kita juga harus mempersiapkan bekal kebutuhan kita seandainya diberi Tuhan umur yang panjang sebagai seorang usia lanjut, baik dalam bentuk fasilitas kesehatan ataupun tunjangan pensiun.

Dari beberapa gambaran diatas perlu kiranya kita persiapkan masa datang dengan persiapan bekal yang cukup dengan melakukan perencanaan keuangan dengan baik agar sasaran hidup kita lebih terarah seperti adagium dalam perencanaan keuangan ‘ manage balance on your earning income and lifestyle ’.

Komentar»

1. Gasrial - September 18, 2008

Sebuah anjuran yg baik, kedepan mungkin akan terbentuk usaha baru yg bergerak sebagai konsultan keuangan pribadi…he he he


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: