jump to navigation

Uang : Dapatkah Untuk Membeli Kebahagiaan ? Oktober 10, 2008

Posted by pengelolaan keuangan in Retrospeksi.
trackback

Kebanyakan orang pasti setuju jika ditanya apakah uang bisa membahagiakan kehidupan kita ? Kita tentu ingin mencapai kebahagiaan dengan menggapai impian-impian yang belum kita raih. Kita akan merasa bahagia bilamana membayangkan mempunyai pekerjaan tetap karena statusnya sekarang sebagai pengangguran, atau akan bahagia jikalau mempunyai Lexus karena mobil yang dipunyai sekarang adalah mobil butut yang sering mogok. Impian-impian atau harapan tersebut dapat diwujudkan seandainya kita punya uang. Dengan kata lain dengan uang kita dapat memenuhi hampir segala keinginan manusia dari : usaha bisnis, status sosial di masyarakat, kesempatan berlibur, menikmati makanan lezat, perumahan ekslusif, fasilitas kesehatan dan menikmati hiburan.

Dalam konsepsi umum, ada anggapan bahwa ada korelasi kuat antara uang dan bahagia. Seandainya konsepsi diatas adalah salah, mungkin orang-orang menjadi akan malas bekerja keras, datang kantor lambat, melayani pelanggan apa adanya. Buat apa bekerja keras kalau tidak memperoleh kebahagiaan dari kerja tersebut, atau orang akan malas menabung kalau tidak ada manfaatnya. Yang pada ujungnya dunia ini tidak akan maju karena manusianya tidak produktif.

Menurut peneliti psikologi menyatakan bahwa kebahagiaan adalah pengalaman hidup yang ditandai dengan emosi positif yang kuat. Untuk memudahkan analogi kita tentang rasa bahagia, jika di skor skala antara 0 – 10 ( skor 5 adalah netral), yang namanya bahagia itu minimal skornya mendekati skor 7 atau lebih. Akan tetapi rasa bahagia ini adalah bersifat subyektif untuk kondisi yang sama belum tentu individu yang berbeda bisa mencapai kebahagiaan yang sama (subjective well-being – SWB). Emosi positif ini bisa dalam wujud yang beraneka ragam, misalnya : rasa sosial yang tinggi, rasa tolong menolong, rasa aman dan derajat kesehatan yang tinggi. Dari survey global (1999 – 2001) yang dilakukan oleh Ronald Inglehart dari 82 negara, diperoleh kesimpulan bahwa negara-negara yang tingkat kebahagian warga negaranya tinggi adalah Puerto Rico, Mexico, Denmark, Irlandia, Eslandia, and Swiss dan yang negara yang tingkat kebahagiaannya terendah salah satunya adalah Indonesia.

Benarkah dengan uang yang melimpah dapat mendatangkan kebahagiaan hidup ? Kita bisa mengambil contoh di Amerika Serikat. Dimana negara ini adalah termasuk negara maju dengan penghasilan perkapita yang tergolong tinggi. Akankah warga AS lebih bahagia karena adanya kenaikan kondisi ekonomi dibandingkan periode sebelumnya ?

Hasil Survey Korelasi Uang dan Bahagia di AS

(Happiness data from National Opinion Research Center General Social Survey; income data from Historical Statistics of the United States and Economic Indicators.)

Grafik diatas adalah hasil pengolahan data survey yang menunjukkan hubungan antara pertumbuhan ekonomi (kemampuan daya beli masyarakat) dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh penduduk Amerika Serikat. Kesimpulan yang dapat kita ambil dari data diatas menunjukkan hal yang kontras, meskipun daya beli masyarakat meningkat hampir tiga kali lipat sejak tahun 50 an, akan tingkat kebahagiaan masyarakatnya tidaklah jauh berubah. Kenapa bisa terjadi (rodo mumet) ? Ada beberapa alasan yang mungkin bisa kita jadikan argumen kenapa hal kondisi paradoksal tersebut bisa terjadi.

1. Sifat manusia yang selalu tidak pernah puas.

Kita beranggapan jikalau kita mempunyai uang kita akan bahagia. Ternyata salah, semakin kita mempunyai uang lebih banyak, pilihan keinginan kita menjadi bertambah, sehingga kita tetap saja kekurangan uang.

2. Kemampuan beradaptasi

Salah satu keunggulan manusia adalah kemampuan untuk melakukan adaptasi. Manusia. Sekali kita mendapatkan kenikmatan, maka kenikmatan-kenikmatan berikutnya akan semakin menurun tingkat kepuasannya. Ketika mendapatkan uang lebih banyak, hal ini akan membahagiakan dalam jangka pendek, dan dengan cepat pula seseorang akan beradaptasi dengan kemampuan ekonomi yang baru sehingga kenikmatannya menjadi berkurang. Para ekonom menamakan kondisi ini dengan “hedonic treadmill.” Kita seolah-olah berlari kedepan akan tetapi kenyataannya kita tetap berlari ditempat.

3. Lebih banyak uang mendatangkan stres

Lebih banyak uang akan membuat kita lebih sibuk untuk menjaganya. Kalau-kalau ada orang yang berniat tidak baik terhadap kita. Perasaan yang muncul kemudian adalah perasaan was-was, tidak tenang serta stres.

4. Selalu membandingkan dengan orang lain yang lebih makmur

Rumput tetangga akan lebih hijau dari rumput dipekarangan sendiri. Perasaan membandingkan dengan orang yang lebih beruntung. Selalu muncul perasaan iri dengan keberhasilan orang lain. Salah satu rangkuman hasil responden survei tersebut diatas menyatakan bahwa tingkat kebahagiaan berkurang bilamana ada tetangga yang lebih sukses darinya, atau adanya perasaan iri sehingga kebahagiaannya berkurang.

5. Uang dan Teori Kebutuhan A. Maslow

Kalau kita merujuk teorinya ‘Hirarki Kebutuhan’ (A Maslow). Bahwa pada dasarnya kebutuhan itu ada lima tingkatan

a. Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.

b. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.

c. Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.

d. Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.

e. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.

Ternyata dari lima tingkat kebutuhan menurut A Maslow, kebutuhan yang paling dapat dipenuhi dengan uang adalah kebutuhan fisiologis saja, selebihnya peranan uang dalam memenuhi kebutuhan lainnya adalah tidak ada. Kita tidak bisa kita bebas dari rasa sakit kalau kita kaya raya atau kita tidak bisa membeli pertemanan semata-mata dengan uang. Nah bagaimana semangat kita dalam hal etos kerja produktif agar mendapatkan uang yang banyak ? Sebenarnya tidaklah salah dengan etos tersebut. Kredo rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya adalah salah satu hukum alam yang harus kita pelihara, karena kalau kita akan mencapai kualitas hidup yang bagus haruslah melalui proses tersebut. Sekarang yang perlu kita benahi adalah orientasi hidup kita, ternyata uang bukanlah segala-galanya untuk mencapai kebahagiaan. Uang memang penting tapi bukanlah yang utama sebagai modal mengisi hidup manusia. Masih banyak faktor lain yang mempunyai peranan besar dalam membantu manusia untuk mencapai kebahagiaan. Nah tujuan hidup kita yang harus kita tentukan karena itu akan menentukan kualitas pribadi kita.

Menurut Arvan Pradiansyah, ada 4 kualitas manusia dalam kaitannya antara tujuan dan kepuasan/kebahagiaan hidup yang ingin dicapai seseorang.

1. Manusia ekonomi

Manusia pada level ini adalah manusia yang masih berambisi mengerjakan sesuatu karena berharap adanya imbalan baik intrinsik dan ekstrinsik. Bilamana imbalan tersebut diperoleh ia akan merasa puas, dan demikian pula sebaliknya.

2. Manusia Sosial

Manusia ini lebih tinggi jenjangnya daripada manusia ekonomi. Mereka akan merasa puas, bilamana adanya imbalan berupa sanjungan, rasa hormat dari lingkungan sosialnya, dan juga sebaliknya merasa kecewa bilamana harapannya dari lingkungannya tidak terpenuhi.

3. Manusia psikologis

Manusia ini adalah lebih tinggi dari level-level sebelumnya, karena kepuasan yang dia inginkan merupakan bentuk dari aktualisasi dirinya. Mereka akan merasa puas bilamana adanya tantangan dan mereka berhasil mengatasinya.

4. Manusia Religius : kebahagiaan : bahagia bila manusia lain bahagia

Manusia religius adalah jenjang tertinggi dari jenjang manusia sebelumnya. Mereka sudah terlepas dari ikatan-ikatan emosional dalam bentuk ekonomi, sanjungan, rasa hormat serta bentuk2 aktualisasi diri. Kalau jenjang manusia sebelumnya mereka mencari kepuasan diri, manusia religius berusaha menggapai kebahagiaan hidup, dengan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi manusia/makhluk lainnya. Jadi manusia religius akan merasa bahagia bilamana dia bisa membahagiakan manusia lainnya. Kemudian perbedaan lainnya antara kepuasan diri dan kebahagiaan adalah kalau kepuasan diri lebih bersifat short term dan akan cepat hilang bersamaan dengan berlalunya waktu, sedangkan kebahagiaan lebih bersifat long term. Sepanjang sesuatu yang diberikan masih bermanfaat maka rasa bahagia ini masih hadir.

Pada titik ini mungkin kita harus meredefinisi kembali arah tujuan dari perjalanan hidup kita. Uang bukanlah segala-galanya dalam memenuhi kebahagiaan kita, karena banyak faktor lain yang ikut peran dalam memberikan kebahagiaan. Jadi Tuhan memang adil, kebahagiaan tidak semata-mata menjadi milik orang kaya, orang lain pun bisa bahagia karena kalau bersyukur atas segala karunia dan nikmat yang diberikan oleh Nya. Mari kita renungkan kembali pepatah :

Money may be the husk of many things, but not the kernel.
It brings you food, but not appetite;
Medicine, but not health;
Acquaintances, but not friends;
Servants, but not faithfulness;
Days of pleasure, but not peace or happiness.

Komentar»

1. sitidjenar - November 2, 2008

dapatkah uang untuk membeli kebahagiaan…..pada dasarnya gak bisa,tapi banyak yang mencoba membelinya…

2. eko sulistyo - November 2, 2008

Banyak orang merasa tidak bahagia, bukannya dari golongan tak berpunya namun dari golongan yang berkelebihan, namun mereka tak tahu kebutuhan apalagi yang bisa dipuaskan dengan uangnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: