jump to navigation

THE FUTURE MONEY November 1, 2008

Posted by pengelolaan keuangan in Istilah Keuangan.
trackback

Berbicara tentang uang adalah salah satu topik yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Sejarah kebudayaan manusia mencatat tentang penemuan suatu medium yang dipergunakan untuk memperlancar pertukaran barang dan jasa dari masa ke masa, yang mana medium itu adalah uang. Dari jaman dahulu hingga kini fungsi uang masihlah sebagai medium alat pertukaran, penimbun kekayaan dan alat spekulasi. Sejak uang diperkenalkan dalam kehidupan manusia, sejak saat itulah nafsu rakus dan tamak manusia tersalurkan melalui uang sehingga banyak kejahatan mewarnai peradaban manusia. Maka pantaslah kalau orang menyebut uang sebagai sumber segala kejahatan (‘Money is the root of all evil’).

Sejarah uang

Dari peninggalan artifak, diketahui bahwa ‘uang’ telah dikenal manusia sejak tahun 9.000 – 6.000 sebelum masehi. Pada saat itu, bentuk uang belumlah berwujud barang kreasi manusia, akan tetapi masih berbentuk hewan ternak (sapi) dan hasil pertanian. Selama berabad abad penggunaan dua icon uang tersebut tetap dipraktekkan di berbagai komunitas masyarakat dunia bahkan hingga kini. Suku-suku pedalaman Papua, sampai sekarang masih menganggap hewan babi adalah suatu medium pertukaran (uang) berharga yang dapat dipertukarkan dengan barang kebutuhan lainnya. Banyak kegiatan adat masyarakat setempat masih melibatkan babi sebagai alat tukar dalam berbagai seremonial adat, misalnya : tawar menawar mas kawin, atau hukuman adat berupa denda bagi sang terhukum.

Pada masa awal sejarah peradaban, aktivitas ekonomi masyarakat yang semula dari ekonomi subsistent beranjak semakin tumbuh maju, yang kemudian melahirkan sistem ekonomi yang lebih maju sehingga tumbuh strata masyarakat kaya. Pada era ini kemudian masyarakat merasa perlu fungsi lembaga keuangan yang kini kita kenal sebagai bank. Kemudian lahirlah era awal lahirnya perbankan di Mesopotamia – Babylonia. Fungsi bank saat itu hanyalah berfungsi sebagai tempat penyimpan barang-barang berharga, termasuk benih tanaman pertanian, ternak dan logam mulia.

Transaksi keuangan modern

Uang yang kita pegang saat ini nilainya sangat tergantung dari situasi dan kondisi global. Apalagi kondisi saat ini, dimana dengan terjadinya krisis keuangan global hingga menekan nilai mata Rupiah. Saat ini diperkirakan transaksi pasar forex di pasar global sekitar $2 triliun perhari. Jumlah transaksi forex ini sedemikian luar biasanya sehingga perbandingan nilainya adalah 100 kali lipat dari gabungan transaksi pasar modal dari seluruh dunia. Dari transaksi forex yang beredar didunia tersebut, hanya proporsi kecil untuk tujuan benar-benar transaksi pertukaran barang dan jasa riil yaitu hanya 2 % saja, hal ini berarti sisa transaksi yang 98 % adalah bertujuan semata-mata untuk spekulasi. Jadi bisa dibayangkan betapa rapuhnya sistem keuangan global dengan sering terjadi gejolak moneter, karena sebagian besar transaksinya adalah untuk kegiatan spekulasi.

Selain dikenal adanya mata uang resmi pada suatu negara, ternyata banyak pula masyarakat (local communities) yang menciptakan mata uang buat transaksi diantara mereka sendiri, ada sekitar 1.900 masyarakat lokal yang mempergunakan mata uang sendiri, termasuk yang ada dinegara maju seperti di Amerika Serikat, Canada, Australia dll.

Fungsi uang yang utama yaitu sebagai alat tukar dalam perdagangan. Dalam era perdagangan bebas ini, volume perdagangan dunia yang meningkat tajam sehingga membutuhkan uang sebagai alat tukar, ada bagian dunia lain yang tetap menggunakan sistem barter dalam urusan perdagangan. Jangan heran banyak negara yang seringkali tetap mempraktekkan sistem perdagangan dengan barter bahkan oleh negara maju sekalipun. Tidak percaya, praktek semacam ini bahkan sering dilakukan oleh negara kita, coba buka lagi ingatan pada masanya Pak Habibie sebagai bosnya IPTN. Kala itu negara kita berhasil menjual sejumlah pesawat terbang ke Thailand, namun bukannya dibayar dengan duit akan tetapi dibayar dengan beras ketan. Secara global transaksi perdagangan dengan sistem barter ini masih jamak dilakukan malah angka pertumbuhan dengan sistem ini meningkat 15 % pertahunnya.


Future Money

Menimbang segala kekurangan dari sistem moneter modern termasuk alat tukar yang ada dewasa ini, para peneliti/perbankan sedang melakukan inovasi tentang uang dalam wajah baru. Bentuk uang lama baik koin ataupun kertas ternyata mengandung beberapa resiko kelemahan yaitu, kecurian, hilang bahkan rusak. Uang yang lebih modern disesuaikan dengan kebutuhan transaksi di abad informasi ini dengan konsep sebutan sebagai e-Money, smartcards, e-wallet, atau e-cash dlsb. Sistem pembayaran dengan e-Money diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan adanya alat pembayaran yang lebih praktis dari model uang sebelumnya. Idenya adalah uang disimpan dalam bentuk deposit atau points dalam sebuah kartu cerdas (smartcards) dimana dalam transaksi penggunaannya dibantu dengan menggunakan kartu elektronik. e-Money dalam smartcards ini lebih aman karena adanya pengaman berupa password atau DNA pemilik kartu, sehingga tanpa memasukkan password atau kode DNA yang benar, maka kartu tidak bisa dipergunakan. e-Money ini tidaklah semata-mata untuk menggantikan mata uang resmi, namun uang masa depan ini untuk mengakomodasi kebutuhan penggunanya misalnya : kebutuhan transfer uang yang lebih cepat. Awal kemunculan e-Money adalah pada saat penyelenggaraan Olympics di Atlanta, dimana saat itu diluncurkan sekitar 300.000 kartu smartcards. Kini kartu cerdas ini telah banyak digunakan di berbagai negara baik Amerika, Eropa dan Asia termasuk Indonesia.

Sistem pembayaran dengan e-Money ini sudah mendapatkan pengesahan dari Bank Indonesia (BI) untuk diimplementasikan penggunaannya di Indonesia. Penggunaan e-Money ini telah banyak kita jumpai di Indonesia, yang salah satunya kita kenal dengan debet card. Tidak seperti credit card, dimana setiap transaksi menggunakan deposit bank penerbit kartu terlebih dahulu dan bank menagih di akhir periode. Pada debet card, kita yang harus mengisi deposit terlebih dahulu, dan selama account kita masih ada depositnya, kartu tetap bisa dipergunakan untuk pembayaran transaksi. Kalangan perbankan nasional sendiri sudah banyak melaunching kartu jenis ini, namun ada sejumlah bank nasional yang melakukan strategi marketing agar kartu debetnya terlihat berbeda produknya dari produk bank lain, beberapa contoh diantaranya adalah flashcard (BCA) dan Jackcard (Bank DKI) untuk pembayaran Transjakarta. Dalam pemanfaatan yang lebih luas tentang e-Money, pembayaran gaji para pegawai di negeri ini sudah jamak melalui transfer ke rekening masing-masing. Yang kemudian pencairan gaji tersebut dilakukan dengan menggunakan debet card.

Namun secanggih apapun ciptaan manusia, e-Money ini ternyata masih mengandung resiko, misalnya resiko kebangkrutan bank penerbit kartu atau kecanggihan para cracker atau carder sehingga uang kita tetap lenyap atau berpindah tangan. Ya sesuailah dengan slogan ‘No Pain No Gain’, jadi semuanya ada resikonya. Jadi kita tunggu penyempurnaan lebih lanjut dari future money ini.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: