jump to navigation

JADILAH A KNOWLEDGE WORKER Desember 16, 2008

Posted by pengelolaan keuangan in Etos Keuangan.
trackback

Latar Belakang

Saya sebenarnya agak kagok juga mengangkat judul diatas, karena kalau dipikir2 agak out of topic dari masalah pengelolaan keuangan. Namun menurut Valentino Dinsi bahwa salah satu elemen orang menjadi sejahtera secara ekonomi (kaya) adalah dari making, selain elemen keeping dan investing. Ditambah lagi keprihatinan dengan kondisi lapangan kerja dewasa ini yang hanya menyediakan lapangan kerja yang terbatas sedangkan peminatnya sangat luar biasa banyaknya. Maka tema diatas menjadi bahan ulasan kali ini dalam pengelolaan keuangan dilihat dari unsur making-nya.

Kondisi lapangan kerja yang timpang dimana terlalu banyak supply tenaga kerja sedangkan jumlah yang membutuhkan tidak sebanding, sehingga bargaining power para pencari kerja ini tidak bagus. Akibatnya banyak entitas bisnis baik swasta ataupun BUMN memberi remunerasi dan fasilitas kesejahteraan pegawainya dengan kondisi yang jauh dari harapan ideal. Sebenarnya potensi SDM kita baik dalam IQ dan EQ tidak kalah dengan kualitas manusia manca negara, namun management pendidikan kita secara makro yang tidak bisa memberikan penyelarasan perencanaan pembangunan pendidikan dan perkembangan pasar kerja sehingga melahirkan banyak pengangguran terdidik.

Dalam sebuah seminar dengan judul “Mengapa Pengangguran Terdidik Meningkat?” dengan salah satu nara sumbernya adalah mantan Mendiknas Wardiman Djojonegoro, terungkap fakta bahwa secara makro, pada tahun 2008 ini tercatat sebanyak 4,5 juta orang dari 9,4 juta orang yang termasuk pengangguran adalah lulusan SMA, SMK, program Diploma, dan Universitas. Artinya, separuh dari total angka pengangguran adalah pengangguran terdidik. Mereka ini sebetulnya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup, namun tidak terserap oleh pasar kerja. Setiap tahunnya adanya kecenderungan bahwa pengangguran terdidik ini semakin meningkat kalau kita bandingkan dari beberapa tahun kebelakang, proporsi penganggur terdidik dari total angka pengangguran pada tahun 1994 tercatat sebesar 17 persen, tahun 2004 menjadi 26 persen, dan kini tahun 2008 angkanya merangkak naik menjadi 50,3 persen.

Sebenarnya para alumni pendidikan tinggi ini tidaklah selamanya salah (kalau mereka hanya dilihat sebagai output pendidikan dan menjadi korban sistem pendidikan yang salah menafsirkan kebutuhan pasar) sehingga melahirkan pencari kerja yang hanya berbekal mental dan kompetensi konvensional tidak mengikuti pergeseran perkembangan jaman sesuai adagium “Knowledge is Power”. Didalam Knowledge era ini tentu perlu penyelarasan kompetensi kerja sesuai dengan kebutuhan yang ada dipasar kerja, terutama organisasi yang berskala global. Menjadi seorang Knowledge Worker (kalo boleh dialih bahasakan sebagai Pekerja Pengetahuan) adalah sebuah pergeseran profesi dalam pergantian milenium memasuki era industrialisasi lanjutan setelah era blue collar workers, white collar workers dan kini menjadi knowledge workers.

Menurut Charles Savage dalam bukunya “Fifth Generation Management.” Menjelaskan proses evolusi proses human socio-economic development dimana kemakmuran (wealth) sangat ditentukan oleh adanya kepemilikan akan sumber produksi. Sumber kemakmuran pada gelombang fase pertama adalah karena kepemilikan tanah (ownership of land), pada fase gelombang kedua – era industrialisasi, kemakmuran ditentukan karena kepemilikan modal (ownership of Capital) dan pada fase terakhir yaitu fase ketiga, sumber kemakmuran karena kepemilikan pengetahuan (ownership of knowledge and the ability to use that knowledge). Pada masa mendatang, diperkirakan akan terjadi pergeseran profesi pekerjaan dimana pada rezim ekonomi sebelumnya sektor pertanian dan industri berkontribusi besar dalam menyerap tenaga kerja namun pada era pengetahuan (Knowledge Age) hanya tinggal 2 % populasi yang bekerja disektor pertanian, 10 % disektor industri dan sisanya akan menjadi Knowledge Workers.

Asal usul

Asal usul dari kata Knowledge Workers (istilah lainnya intellectual worker atau brain worker) bukanlah dari otak atik kata asal usil menjadi demikian, namun definisi profesi pekerja ini sudah di inisiasi oleh Peter F Drucker di tahun 1959 (hebat juga – weruh sakdurunge winarah – tahu sebelum terjadinya peristiwa). Knowledge Workers adalah orang-orang yang pekerjaan utamanya terkait dengan informasi atau orang-orang yang menghasilkan dan menggunakan pengetahuan dalam lingkungan kerja. Orang seringkali salah kaprah mengartikan Knowledge Workers adalah mereka yang hanya berkecimpung dalam dunia yang terkait dengan teknologi informasi. Memang sebagian dari mereka mereka adalah manusia yang dapat menggunakan electronic tools dalam mencari informasi dan menghasilkan solusi atas permasalahan yang dihadapai oleh organisasi yang mempekerjakannya. Selain itu banyak pula profesi yang tidak terkait dengan teknologi informasi namun masih dapat digolongkan sebagai pekerja pengetahuan, sebagai misal profesi pengacara, ilmuwan bahkan guru, karena toh ruang lingkup pekerjaan mereka masih mempergunakan informasi dan pengetahuan sebagai produk layanan jasa mereka.

Kebutuhan SDM yang kompeten dalam bidang pengetahuan (knowledge) dikarenakan kebutuhan dari sektor industri secara global untuk menunjang aktivitas bisnis organisasi semisal dalam hal bisnis intelijen, peningkatan intellectual capital, pencarian informasi/survey dari pelanggan dan berbagai jenis pengetahuan/informasi yang dapat meningkatkan daya saing kegiatan bisnis.

Salah satu karakteristik dari manusia yang berkecimpung dalam profesi ini adalah orang-orang yang selalu haus dan kebutuhan tantangan intelektual. Mereka selalu terpacu untuk senantiasa belajar (longlife learning), maka tidaklah mengherankan organisasi bisnis sebesar Oracle dan Cisco System menyediakan fasilitas longlife learning untuk pegawainya/mitranya. Karena mereka sadar bahwa keberhasilan bisnis mereka sangat ditunjang oleh performa kreativitas para pekerja pengetahuannya, sebagai bukti konkrit Oracle membangun Oracle University, dan Cisco membangun high-tech distance facility untuk memenuhi hasrat dan tantangan pengetahuan para pegawai perusahaan tersebut.

Karakteristik Pekerja Pengetahuan

Ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji tentang karakterisitik dari pekerja pengetahuan ini. Kalau menurut Sawidji Widoatmodjo dalam bukunya New Business Model, dimana kelak kekuatan sebuah organisasi bukan terletak pada strukturnya akan tetapi terletak pada kesejajaran dengan para mitra kerjanya sehingga terbangun pola kolaborasi/koalisi yang sinergis. Karena bentuknya bukan lagi hubungan antara pemberi kerja dan pekerja maka pola karir dari pekerja pengetahuan ini menjadi berubah menjadi bekerja tanpa karir, serta model hubungan pengendalian antara majikan dan pekerja berubah menjadi pola hubungan saling percaya dengan mitra kerja.

Toffler pada tahun 1990 melakukan observasi bahwa ciri khas dari komunitas knowledge workers di era knowledge economy dan knowledge society adalah adanya sistem yang dapat menciptakan, memproses dan mengembangkan teknologi dan pengetahuan bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia tersebut. Serta adanya perubahan pola hubungan kerja kalau dulu dinamakan interaction worker menjadi human interaction management (sori takut kalo diterjemahkan menjadi kurang pas).

Ada fakta yang agak mengejutkan kalau melihat quantitas waktu yang dihabiskan para pekerja pengetahuan ini dalam menggunakan tools IT, ternyata mereka hanya menggunakan 40 % waktunya dalam hal yang terkait dengan IT, sisa waktunya dihabiskan mengadakan rapat pertemuan, membuat pesan2 dan dokumen serta pencarian informasi dan pengetahuan lainnya secara intensif.

pekerja-pengetahuan

Sumber : Thinking For a Living. How to Get Better Performance and Results from Knowledge Workers, by Prof. Thomas Davenport (Boston: Harvard Business School Press, Copyright 2005)

Penutup

Membekali diri dengan informasi dan pengetahuan yang memadai mengenai bidang pekerjaan yang akan / kita geluti sekarang memang tidaklah mudah karena banyak hambatan yang menghadang. Menjadi seorang pekerja pengetahuan tidaklah selamanya menjadi bawahan/bagian langsung dari suatu organisasi, karena profesi ini memberikan keleluasaan bekerja bagi para profesional tersebut. Karena pola hubungan kerja sudah berubah antara pemberi kerja dan pekerja adalah hubungan koalisi mitra kerja maka pekerja pengetahuan masa depan haruslah siap mengelola karir bagi dirinya sendiri karena jenjang karir menjadi hal yang usang. Medan karir masa mendatang ibarat pohon anggur yang menjalar, tugas seorang pekerja pengetahuan hanyalah bermodal sebuah kapak yaitu keahlian dan pengetahuan.

Komentar»

1. Alexhappy - Desember 18, 2008

Wah….. nice artikel mas…….thanks

btw, makasih dah mampir di blog sy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: