jump to navigation

3 HAL YANG MEMBUAT ANDA MALES BERINVESTASI Januari 6, 2009

Posted by pengelolaan keuangan in Fenomena Keuangan.
trackback

moneySaya sering berpikir kira-kira berapa sih kebutuhan dana pendidikan anak saya bilamana dia masuk kuliah ? Sebagai perbandingan saja sekarang untuk biaya pendaftaran kuliah Strata-1 di Fakultas Ekonomi – Universitas Indonesia (kelas international – abis ketemunya cuma ini) untuk bayar admission fee Rp 26 juta dan tuition fee per semester Rp 25 juta (coba cek fe.ui.ac.id) . Jadi untuk bayar uang masuk + kuliah di semester awal saja paling tidak butuh uang Rp 51 juta. Nah kalau anak saya akan kuliah 15 – 20 tahun kemudian dengan inflasi 10 % per tahun, butuh berapa duit ? Biaya uang masuk yang tadi “hanya” 50 jutaan, kalau kita hitung 20 tahun lagi (compounded) menjadi Rp 330 jutaan. Uang segitu banyak bayarnya darimana ? Itupun baru uang masuk belum lagi biaya sampai lulus. Apalagi saya kan seorang pegawai negeri sipil dengan pangkat dan golongan pegawai biasa saja, enggak mungkinlah punya duit yang segitu banyak kecuali dipersiapkan sejak lama. Nah sejak saat itu saya mulai berpikir untuk mempersiapkan dana pendidikan anak dengan jalan investasi. Investasi apa..wha..ha..rahasia, takut nanti diaudit KPK (ngapain ya takut wong ga ngapa-ngapain kok).

Kata “investasi “ seolah kata yang masing asing didengar ditelinga kita dan kalau kita diajak berinvestasi seolah-olah merasa ogah-ogahan atau merasa trauma. Kembali keingatan beberapa waktu lalu yang bercerita tentang tertipunya ribuan nasabah perusahaan investasi dengan jumlah kerugian milyaran rupiah misal diperusahaan semacam “QSAR” dsb. Sehingga kata investasi seolah suatu dunia yang penuh tipu menipu dan tiadanya kejujuran disana. Perlu kita segarkan kembali bahwa untuk mengantisipasi kebutuhan masa mendatang tetap harus kita persiapkan sejak dini yaitu dengan berinvestasi, kalau hanya mengandalkan tabungan tentulah tidak akan mencukupi karena nilai tabungan akan dikikis oleh inflasi.

Sebenarnya kebiasaan menabung/investasi sudah menjadi bagian dari budaya kita. Para moyang kita sudah sering mempraktekannya namun pelaksanaannya memang masih berbaur dengan adat dan kebiasaan serta sulit dibedakan antara konsep menabung dan investasi. Konsep investasi mereka misalnya dengan menyisihkan sebagian hasil panen untuk di”investasikan” sebagai benih untuk periode musim tanam berikutnya. Atau kalau kita jalan-jalan ke pedesaan sering kita temui warga yang memelihara hewan-hewan ternak, – sapi, kerbau, kambing dll atau tanaman keras bernilai ekonomi tinggi misalnya : jati, sengon dll. Baik hewan ataupun tanaman peliharaan tersebut adalah bentuk investasi bagi mereka. Hasil investasi tersebut akan mereka petik (taking profit) pada saat mereka membutuhkan, seperti pada saat tahun ajaran baru atau hajatan pernikahan atau sunatan. Dimana pada event tersebut membutuhkan biaya yang relatif besar dan dapat mereka penuhi dengan hasil penjualan ternak/tanaman tersebut. Mereka dengan pemahaman yang sederhana saja sudah melakukan kegiatan yang dapat disebut sebagai investasi, kenapa kita belum melakukannya ? Adanya keengganan untuk memulai berinvestasi karena adanya beberapa kesalahpahaman tentang investasi yaitu :

# 1. Investasi itu terlalu rumit

Bagi sebagian orang awam akan menilai bahwa yang melakukan kegiatan investasi adalah para investor dengan perhitungan rumus yang njlimet, rumit dan susah dipahami. Namun siapapun berhak untuk melakukan investasi, terlepas anda orang yang melek ilmu investasi atau tidak. Sebaiknya investasi itu dimulai dari hal-hal yang kita ketahui dan kuasai saja, andaikan tahu tentang perihal emas ya investasilah di emas, kalau tahunya investasi tentang rumah ya investasilah di properti. Namun dewasa ini dengan semakin majunya industri keuangan dan semakin banyak instrumen investasi serta semakin banyaknya perusahaan pengelolaan aset/investasi (fund management) akan lebih memudahkan calon investor untuk dapat berkonsultasi lebih mendalam sebelum menanam investasinya. Perusahaan fund management inilah yang akan memberikan advis dan mengatur semua kebutuhan investasi anda. Tugas kita hanyalah menyediakan duitnya (atau tanpa duit saja masih bisa kredit).

#2. Resiko yang terlalu besar

Sesuaikan dengan profil resiko diri anda apakah anda termasuk investor agresif, moderat, atau konservatif karena setiap orang pada dasarnya berbeda toleransinya antara keuntungan dan resikonya. Seorang investor konservatif yang terbiasa mempunyai deposito tentu akan merasa cemas kalau memegang saham meskipun return-nya lebih tinggi. Jadi kenali toleransi anda terhadap resiko investasi. Yang jelas seperti pameo “High Risk, High Return”, jadi kalau mau untung besar ya resikonya tinggi dan sebaliknya. Bersamaan dengan semakin majunya industri keuangan, akan semakin banyak tersedia berbagai jenis investasi dengan karakteristik dari sisi return ataupun risk nya. Jadi pilih investasi sesuai dengan tingkat toleransi anda terhadap imbangan antara keuntungan dan resiko investasi.

#3. Membutuhkan dana yang besar

Sekarang investasi dapat dimulai dengan nominal yang relatif terjangkau. Kalau dulu investasi yang terjangkau adalah dengan deposito dengan nominal satu juta rupiah misalnya, sekarang dengan modal hanya beberapa ratus ribu anda sudah dapat berinvestasi. Atau coba googling, ternyata dengan duit Rp 250 – 500 ribu kita sudah bisa berinvestasi di reksadana. Jadi tinggal kita sisihkan sebagaian dari penghasilan kita untuk dialokasikan ke investasi pribadi.

Investasi bukanlah sesuatu yang menakutkan bilamana kita tahu ilmunya. Memang banyak orang yang menjadi jatuh bangkrut karena investasi, namun jangan disamakan antara investasi dengan judi. Memang akibat ekstrem keduanya adalah anda bakalan bangkrut. Namun kegiatan investasi tentu lebih berlandaskan akal sehat dan pertimbangan matang berbeda dengan judi. Kegagalan berinvestasi janganlah menjadi penghalang untuk terus belajar. seperti kata pameo “No Pain, No Gain” jadi untuk sukses harus berani gagal. Karena dengan investasi adalah salah satu jalan yang dapat kita pergunakan untuk merencanakan pemenuhan kebutuhan kita dimasa yang akan datang dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi kita pada saat ini.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: