jump to navigation

KERJA, DAPAT DUIT TERUS APALAGI ? Januari 11, 2009

Posted by pengelolaan keuangan in Retrospeksi.
trackback

“Apakah gaji/penghasilan adalah faktor utama yang akan menentukan tingkat kepuasan kerja anda sekalian”, itu adalah salah satu pertanyaan yang sering saya more-than-money1lontarkan kepada para peserta sebuah diklat bilamana saya ditugaskan mengajar diklat tersebut. Dan hampir dapat diduga mayoritas akan menjawab “iya” bahwa gaji adalah faktor utama penentu kepuasan kerja. Oh..iya..saya akan bercerita sedikit tentang latar belakang peserta diklat ini. Mereka para peserta diklat adalah para lulusan Program Diploma Keuangan (STAN) – yang nantinya akan mengabdi bekerja pada Departemen tempat saya bekerja. Diklat yang saya ajar ini adalah salah satu sarana untuk memberikan pembekalan (orientasi) sebelum mereka terjun kerja dilapangan (meskipun saya secara pribadi enggak 100% setuju diklat ini). Diklat ini adalah titik transisi setelah status mereka beranjak dari mahasiswa Prodip. Keuangan/STAN menjadi sebagai calon pegawai negeri. Karena status mereka sebelumnya adalah mahasiswa yang harus prihatin tanpa gaji dan sekarang status mereka adalah calon pegawai, maka gambaran dibenak mereka bahwa gaji/penghasilan adalah faktor pemuas kerja mereka. Jadi tidak salah persepsi dari peserta diklat tersebut.

Nah kemudian saya berikan simple quiz tentang persepsi mereka tentang hal-hal yang akan mereka harapkan sebagai pemuas kerja yang diharapkan diperoleh dari tempat kerja mereka kelak. Quiz ini adalah penjabaran dari teorinya Motivation – Hygiene (Herzberg). Sekilas tentang teori motivasi kerjanya si Herzberg ini menyatakan bahwa dilingkungan kerja adanya faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan kerja (motivator kerja) dan faktor-faktor yang perlu dihilangkan agar tidak memicu ketidakpuasan kerja (hygiene), namun apabila faktor hygiene ini dihilangkan tidak sertamerta memicu motivasi kerja. Kembali kecerita awal, ternyata setelah dievaluasi atas jawaban mereka atas pertanyaan di quiz tersebut, mayoritas peserta diklat akan menjawab bahwa faktor motivator (seperti tantangan kerja, perolehan pengakuan, tanggungjawab, perasaan bangga atas prestasi kerja) lebih dominan memberikan kepuasan kerja dibandingkan faktor hygiene (termasuk penggajian). Saya tidak menganggap bahwa setiap orang akan setuju dengan hasil ”experiment” diatas. Namun anda boleh menguji sendiri apakah ’percobaan’ anda akan sepenuhnya sama dengan pengalaman saya atau berbeda hasilnya, monggo….

Setiap orang mempunyai alasan yang berbeda untuk bekerja. Alasan bekerja adalah bersifat individual yang mungkin berbeda antara satu orang dengan lainnya. Akan tetapi, alasan utama kita bekerja karena ingin mendapatkan sesuatu yang dapat sebagai pemuas kebutuhan baik bersifat intrinsik (uang) atau ekstrinsik (pemenuhan misi pribadi). Sesuatu yang ingin kita dapatkan dari bekerja adalah moral kerja dan perubahan kualitas kehidupan baik secara material maupun mental.

Karyawanan adalah tentang Uang

Dibalik semua alasan, salah satu faktor yang melandasi orang melakukan suatu karyawanan adalah karena alasan uang. Dengan nama yang beragam bahwa dari bekerja kita akan mendapatkan penghasilan/pemasukan/remunerasi yang bisa disebut : gaji, kompensasi, bonus, tunjangan, upah dlsb. Dengan uang tersebut dapat untuk memenuhi kebutuhan mendasar seperti membeli rumah, membeli makanan, asuransi kesehatan, liburan maupun mempersiapkan dana pensiun.

Karena adanya pemahaman bahwa uang adalah faktor yang memotivasi seseorang mau mengabdi bekerja pada suatu organisasi, maka dengan sistem remunerasi yang bagus dapat menarik orang-orang terbaik mau bekerja di suatu organisasi. Namun seperti pemahaman kebanyakan orang bahwa dengan bekerja dan mendapatkan uang maka kepuasan pribadinya telah terpenuhi, namun persepsi diatas tidak sepenuhnya benar.

Punya Uang? Selanjutnya apa?

Kalau kita hanya mempunyai motivasi bahwa bekerja semata-mata demi uang, maka akan segera terasa kejenuhan karena kalau hanya demi uang karena uang dengan mudah diperoleh bilamana anda bekerja, namun setelah anda bekerja dan mendapatkan uang terus bagaimana selanjutnya……. Ada sebuah survei yang melibatkan ribuan karyawan dan manajer di Amerika yang dilakukan oleh the American Psychological Association di awal tahun 80an, memberikan gambaran bahwa para karyawan tersebut ingin bekerja lebih dari sekadar alasan mendapatkan uang. Dalam sebuah artikel “The Ten Ironies of Motivation,” yang ditulis oleh Bob Nelson menjelaskan bahwa seorang karyawan ingin dihargai bilamana melakukan karyawanannya dengan baik dan diperlakukan sebagai orang yang dewasa -“that people want to be treated as if they are adult human beings”.

Alasan orang mau bekerja adalah bersifat siuasional dan individual. Mereka ingin agar karyawanan tersebut dapat memberikan makna dalam kehidupan mereka. Dari penjelasan Bob Nelson dapat klasifikasi tentang hal-hal yang diinginkan seorang karyawan dari pekerjaannya adalah.

# 1. Kontrol karyawanan.

Termasuk didalamnya kemampuan mempengaruhi keputusan, kejelasan dan pengukuran tujuan, tanggungjawab yang jelas, pengayaan kerja, dan pengakuan atas prestasi kerja.

# 2. Penerimaan dari lingkungan sosial

Kesempatan dan partisipasi dari tim, perolehan informasi yang cepat dan akurat, pengertian yang mendalam dari manajemen dalam pengambilan keputusan serta informasi atas pencapaian sasaran kerja.

# 3. Kesempatan dalam pengembangan diri

Termasuk disini adalah memperoleh kesempatan dalam proses pendidikan dan pelatihan, partisipasi dalam tim, pelatihan lintas sektor, kunjungan ke tempat kerja percontohan.

# 4. Kepemimpinan

Karyawan menginginkan adanya kejelasan kerangka kerja secara maksro, dan gambaran tentang tujuan organisasi yang akan dicapai dimana adanya kesesuaian dan manfaat antara tujuan tersebut dengan harapan secara individual.

Penerapan remunerasi dan turnover karyawan

Ada pendapat yang menarik dari Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku “First Break All the Rules”, dimana menerangkan bahwa begitu banyak organisasi mempertaruhkan reputasi dan banyak uang untuk mempertahankan karyawan terbaik mereka agar tetap bekerja dalam organisasi – dalam bentuk gaji yang lebih besar dan fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun kebanyakan alasan para pegawai ‘cabut’ karena alasan ketidaksesuaian dengan para atasan (manajer). Kalau suatu organisasi mempunyai tingkat turnover karyawan yang tinggi, perlu ditelisik kembali dari kualitas hubungan antara para pimpinan organisasi dan para bawahannya. Disatu sisi sebenarnya kebutuhan utama para karyawan ini tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait bagaimana mereka diperlakukan dan dihargai. Dari survei majalah Fortune beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa sekitar 75 % karyawan mengalami penderitaan karena mempunyai atasan yang sulit. Dari semua penyebab stres ditempat kerja alasan yang paling utama adalah adanya ’bos’ yang buruk. Hal ini akan mengakibatkan terganggunya kesehatan emosional produktivitas karyawan. Sehingga akibat akhirnya jelas, para karyawan yang bagus akan kabur.

Bekerja tidaklah semata-mata demi uang. Kalau cuma alasan uang sebagai penentu kepuasan kerja, maka segera akan terjadi kejenuhan dalam kerja. Ada beberapa faktor lain yang mendorong seseorang bekerja lebih giat selain faktor uang. Perlakuan yang sebagai orang dewasa dan manusiawi, tantangan kerja serta pengembangan diri adalah faktor-faktor lain yang dapat memuaskan seseorang mau mengabdi bekerja. Buat apa digaji gede tapi diperlakukan buruk selayaknya budak yang tidak bermartabat. Sori lah yau……

Komentar»

1. ikankoi - Januari 12, 2009

Bener…..hubungan dengan atasan adalah alasan untuk keluar dari tempat kerja, tapi kebanyakan karena alasan gaji


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: