jump to navigation

COMMUNITY CURRENCY SYSTEMS Januari 18, 2009

Posted by pengelolaan keuangan in Fenomena Keuangan.
trackback

Ketika arsip buku-buku dikantor saya bongkar, saya menemukan majalah lama yang bernama duit-jepang“Pacific Friend” disitu saya menemukan artikel yang cukup menarik untuk disampaikan disini. Mungkin informasi ini hanya sebagai referensi saja karena kalau diterapkan disini bakalan ditangkap aparat keamanan. Judul salah satu artikelnya adalah “Community Currency Systems”, seperti judulnya tentu sudah dapat kita tebak bahwa ini akan bercerita tentang mata uang yang diedarkan secara terbatas disuatu komunitas/masyarakat tertentu.

Di Jepang banyak terdapat komunitas masyarakat yang mempunyai mata uang sendiri, sebagai contoh disini yang mata uangnya disebut “Zuka”. Mata uang ini diedarkan di kota Takarazuka, Provinsi Hyogo. Kota Takarazuka terletak diantara dua kota besar yaitu Osaka (kota terbesar ketiga di jepang) dan Kobe (ingat gempa besar yang meluluh lantakkan kota ini tahun 1995). Karena lokasi kota kecil ini adalah terletak diarea yang berbukit maka agak menyulitkan antar warganya untuk melakukan interaksi sosial, karenanya kemudian muncul ide dari warga untuk melakukan eksperimen dengan menerbitkan mata uang sendiri. Salah satu alasan kenapa mereka ingin mempunyai mata uang lokal sendiri adalah untuk lebih meningkatkan rasa memiliki terhadap kota mereka serta meningkatkan interaksi sosial antar warga kota.

Skema dari mata uang “Zuka” ini diawali dengan diedarkan uang ini secara terbatas dalam ruang lingkup sekolah dasar (elementary school district). Dimana masing2 sekolah dasar ini mempunyai partisipan yang bersedia bergabung dalam gagasan eksperimen ini. Setiap anggota akan menerima 10 lembar @ 1.000 zuka. Selanjutnya bagaimana mereka dapat membelanjakan uangnya ? para anggota komunitas membuat daftar layanan jasa yang dapat mereka berikan kepada sesama anggota komunitas. Dan sebagai imbalan atas pelayanan jasa tersebut mereka akan menerima pembayaran “Zuka”. Mata uang “Zuka” ini memang terbatas hanya dapat dibelanjakan sebagai pembayaran atas pelayanan “jasa” antar anggota komunitas. Jadi untuk alat pembayaran untuk membeli barang-barang masih tetap memakai mata uang resmi “Yen”.

Mata uang komunitas/lokal semacam “Zuka” tidak hanya sendirian, di Jepang masih ada beberapa mata uang komunitas lainnya misalnya “Como” dan “Peanut”. Lahirnya mata uang komunitas ini sebenarnya didasari oleh keinginan untuk merevitalisasi ekonomi lokal karena disana adanya masalah ekonomi yang berlarut-larut belum ada penyelesaiannya, yaitu masalah “deflasi”. Jadi dengan deflasi harga2 barang konsumsi bukannya makin mahal, akan tetapi semakin murah. Kenapa makin murah, karena melemahnya demand dari masyarakat yang semakin tua, jadi tingkat konsumsinya akan berkurang pula. Fyi, peta demografi Jepang adalah seperti piramida terbalik, dimana populasi orang tua mendominasi dasar piramida (aging population). Sedangkan populasi generasi mudanya lebih sedikit. Jadi dengan munculnya uang komunitas ini diharapkan dapat mendorong konsumsi penduduk lokal, karena pada dasarnya para orang tua ini memang secara fisiologis sudah berkurang hasrat pemenuhan kebutuhannya.

Fakta lain yang menarik dari mata uang komunitas ini, ternyata pengguna mata uang komunitas tidak hanya menarik hanya ”kaum tua” saja, seperti di Shibuya district – sebuah distrik fashion dan entertainment di Tokyo, ternyata banyak anak-anak muda juga ikut berpartisipasi dalam proyek “The Earth Day Money”. Proyek ini mengeluarkan mata uang yang disebut “r” (lucu juga kayak gak ada nama lainnya). “r” dapat diperoleh dengan cara menukarkan mata uang Yen atau ikut aktif berpartisipasi dalam kegiatan proyek ini dan kemudian mereka dibayar dengan “r” (nilai tukar antara “r” dan “Yen” sama, artinya 100 “r” = 100 Yen).

Fenomena lahirnya mata uang komunitas ini adalah sebuah fenomena yang dianggap biasa saja oleh masyarakat Jepang. Mata uang ini lahir memang bukan ditujukan akan menggantikan mata uang resmi “Yen”. Masing-masing mata uang komunitas ini sebenarnya ditujukan untuk membantu merevitalisasi ekonomi lokal serta untuk meningkatkan solidaritas sosial diantara warga kota terutama diantara sesama anggota komunitas pengguna uang lokal tersebut.

Komentar»

1. dina - Maret 3, 2009

tlg jelasin lagi tentang uang komunitas di indonesia dong.. kira-kira gimana ya perkembangannya? apa mungkin?
thx ya.

Coba cek http://www.appropriate-economics.org/asia/indonesia/CCS_in_Indonesia_-_Revrisond_Baswir.pdf ttg potensi dan hambatan uang komunitas di Indonesia oleh Revrisond Baswir. salam

2. vina - Juli 21, 2009

klo blh tau itu majalah taun brp ya?

Jawab :
Sori ya mbak saya cari lagi majalah itu ga ketemu lg. Abis pindah ruangan jadi banyak berkas yang belum ketemu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: