jump to navigation

Ketika Pegawai Dunia Pensiun, Uang Pensiun Mereka Siapa Yang Bayar ? Januari 21, 2009

Posted by pengelolaan keuangan in Fenomena Keuangan.
trackback

Tanpa terasa bahwa dunia yang kita pijak ini semakin tua, para warga dunia yang semula aktif bekerja tanpa terasa mulai memasuki paripurna tugas. Generasi pendahulu kemudian digantikan generasi berikutnya, seperti itulah hukum alam berjalan. Kondisi yang sama terjadi pula dikantor saya, tanpa terasa para senior saya banyak yang mulai memasuki usia pensiun, sehingga sebentar lagi ada regenerasi jabatan. Memang benar rasanya bunyi pepatah Arab yang menyatakan bahwa ”waktu berjalan laksana pedang”, jika kita tak pandai mengaturnya maka diri kita yang akan mengalami kerugian. Ada sebuah artikel menarik dari tulisan Alan Greenspan di bukunya ”Abad Prahara” terkait dengan pegawai dunia yang mau beranjak ke peraduan ini. Dibukunya diceritakan bahwa hampir semua negara maju dalam kondisi ketidakseimbangan demografi, maksudnya bahwa sebentar lagi ratio antara populasi generasi pekerja sekarang dan penggantinya terdapat kesenjangan yang lebar, akibatnya pos jabatan yang ditinggalkan tidak bisa semuanya digantikan oleh generasi penerusnya.

Gap Supply dan Demand Naker

Dewasa ini di hampir semua negara di bumi belahan utara, peran populasi penduduk yang dilahirkan setelah era PD II sangat signifikan terutama dilihat dari jumlahnya dalam dunia kerja. Era setelah selesainya perang besar akan diikuti dengan lonjakan kenaikan jumlah kelahiran (mungkin untuk menggantikan populasi penduduk korban perang, atau ada yang bisa kasih argumen ? ) Kalau melihat data statistik penduduk Amerika Serikat memperlihatkan bahwa puncak angka kelahiran setelah PD II ada pada tahun 1957 dimana seorang ibu melakukan rata-rata 3,7 kelahiran sepanjang hidupnya, angka fertilitas ini kemudian beranjak turun di tahun 70 an menjadi 1,8 kelahiran dan sekarang diperkirakan sekitar 2,1 kelahiran (angka penggantian – hanya menggantikan posisi orang tuanya saja). Generasi pascaperang yang kemudian disebut ”Baby Boom” ini sekarang masih berkiprah didunia kerja meskipun ”masa edar” nya tinggal sebentar lagi. Kalau kita lihat data statistik diatas berarti ada gap yang lumayan tinggi antara generasi 50 an dan generasi 70 an. Nah kondisi ini yang mengkhawatirkan di negara-negara maju, dimana ditakutkan adanya kekurangan supply tenaga kerja (sisi kuantitas) untuk menggantikan pegawai yang akan memasuki usia pensiun. Belum lagi mendapatkan tenaga kerja yang terampil lebih sulit lagi (sisi kualitas). Maklumlah mereka sudah tergolong negara-negara mapan dengan tingkat konsumsi tinggi jadi ketakutan ini sangat beralasan, (biasanya memang orang kaya itu takut miskin, tapi sebaliknya orang miskin enggak takut kaya).

Selain di Amerika Serikat, beberapa tahun lalu di salah satu stasiun radio swasta pernah mengulas dimana kondisi negara Kanada juga tidak jauh dengan negara tetangganya (AS), namun permasalahan di Kanada lebih kompleks, karena adanya keengganan para generasi mudanya yang ogah tinggal di Kanada karena iklim yang ekstrem dingin jadi tidak nyaman untuk dihuni (kecuali beruang kutub dan perantau dari khatulistiwa yang mau kali…he..). Para generasi muda Kanada lebih senang merantau ke luar negeri daripada tetap tinggal dinegaranya. Nah kondisi ini yang membuat pusing para pejabat negara tersebut. Siapa yang bakalan sebagai penerus “estafet pembangunan” bangsa Kanada ? Seperti pengalaman pribadi saya, ada seorang teman Kanada (Brent Sinclair) bercerita bahwa mereka lebih senang mencari pekerjaan di negara lain yang tidak se ekstrim iklim seperti di Kanada. Salah satu keunggulan para “Anglo” ini karena mereka gampang mencari pekerjaan di negara lain. Apa pekerjaan yang gampang mereka cari ? salah satunya ….. ya tentu saja sebagai guru bahasa Inggris, seorang ”native speaker” selalu mendapat point plus-plus dimana2 enggak hanya di Indonesia saja.

Pensiun Adalah Masalah Umat Manusia Abad 21

Pengalaman manusia dalam menghadapi permasalahan yang timbul setelah masa pensiun sebenarnya relatif baru. Seabad lalu rata-rata usia harapan hidup dinegara yang sekarang tergolong sebagai negara maju adalah 46 tahun, jadi sedikit orang yang mengalami usia pensiun. Serta adanya pergeseran dalam demografi penduduk dimana usia harapan hidup penduduk menjadi lebih panjang. Amerika Serikat adalah salah satu negara yang mempunyai usia harapan hidup lebih panjang dan kualitas kesehatan yang lebih baik dibandingkan negara lain. Pada tahun 1950, secara rata2 statistik seorang pria yang usianya sudah mencapai 65 dapat berharap hidup hingga usia 78 tahun, sekarang mereka dapat berharap dapat hidup hingga usia 82 tahun dan pada tahun 2030 usia harapan hidup akan menjadi 83 tahun. Nah dengan semakin panjangnya usia harapan hidup ikut menambah prosentase populasi penduduk lansia. Menurut laporan PBB, dewasa ini prosentase orang lansia adalah sekitar 16 persen , namun pada tahun 2030 akan menjadi 23 persen. Karena prosentase para lansia ini yang naik, akibatnya banyak negara maju harus menyisihkan lebih banyak anggaran yang nantinya akan digunakan untuk membiayai uang pensiun termasuk pula penyediaan fasilitas kesehatan mereka.

Penyisihan anggaran untuk tunjangan pensiun bersumber salah satunya adalah dari pemungutan pajak, maka tidak heran ratio antara penghasilan dan kewajiban membayar pajak menjadi semakin tinggi. Pernah teman di Jepang mengeluh karena porsi potongan pajak atas penghasilan mereka sudah termasuk tinggi. Menurut dia, proporsi antara pegawai aktif dan pensiun adalah sekitar 2:1. Artinya 2 pegawai aktif membiayai 1 orang pensiunan. Pada beberapa dekade kedepan kondisi ini akan semakin mengkhawatirkan karena dengan semakin berkurangnya angka fertilitas maka nantinya bisa jadi 1 orang pegawai aktif membiayai 1 orang pensiunan. Bisa jadi 50 % gajinya akan habis untuk membayar pajak saja.

Fenomena bahwa negara wajib memberikan pelayanan kesehatan kepada warga lansia tidak hanya terjadi Amerika saja untuk para pensiunan ”Baby Boomer”, di Jepang kondisinya tidak jauh berbeda. Di banyak rumah sakit baik pemerintah atau swasta kebanyakan yang menjadi pasien RS adalah para lansia termasuk balita (orang dewasa Jepang jarang yang masuk kerumah sakit, kecuali jadi wisman ke Indonesia gara2 makan).

Gimana solusinya ?

Jadi untuk pembayaran tunjangan pensiun dan penyediaan fasilitas kesehatan bagi lansia akan semakin membebani anggaran para negara maju. Sehingga ada ketakutan mengenai defisit yang parah sehingga mengganggu ”solvabilitas” negara bersangkutan.

Dilain sisi warga pekerja juga emoh untuk berbagi penghasilannya yang habis untuk bayar pajak demi kesejahteraan para manula. Dengan semakin menuanya para pekerja mereka ditakutkan akan terjadinya penurunan produktivitas yang selanjutnya akan menimbulkan kemunduran ekonomi. Bagaimana untuk tetap mempertahankan atau menaikkan produktivitas nasional ? Solusinya adalah dengan migrasi penduduk.

Negara- negara maju akan bersaing memperebutkan tenaga kerja yang terampil yang berasal dari dunia berkembang. Posisi negara berkembang nantinya diperkirakan akan semakin kuat karena SDM di negara berkembang ini terus belajar sehingga secara signifikan akan mendongkrak performa produktivitas SDM nya. kita lihat kasus Kanada kembali, Pemerintah Kanada berencana untuk lebih membuka keran para pekerja asing untuk mengisi pekerjaan yang tersedia atau yang ditinggalkan warga mudanya yang hengkang ke mancanegara. Dari masuknya para naker asing ini diharapkan ada manfaat ganda yaitu yang pertama adalah adanya tambahan ”workforce” yang ikut dalam pembangunan ekonomi negara dan yang kedua adalah adanya tambahan potensi subyek pajak yang dapat digali sebagai sumber pembiayaan negara.

Tanpa terasa bahwa dunia ini bertambah tua umurnya. Dengan semakin tua para warga dunia ini, ternyata bahwa tanggung jawab untuk mempertahankan tingkat kesejahteraan warga negara tidak dapat lagi dipenuhi dari produktivitas warga negara sendiri. Sehingga kondisi ini akan semakin mempercepat mobilitas tenaga kerja antar negara. Potensi ini harus tanggapi dengan positif baik oleh pemerintah maupun warga negara kita. Dengan semakin terbukanya peluang bagi ”ekspat” RI keluar negeri maka perlu peningkatan kualitas SDM agar yang naker yang ”diekspor” jangan hanya naker tenaga kasar akan tetapi naker yang terampil, bermoral dan berintelektual.

Komentar»

1. infoGue - Januari 22, 2009

Artikel anda di

http://dunia-bisnis.infogue.com/ketika_pegawai_dunia_pensiun_uang_pensiun_mereka_siapa_yang_bayar_

promosikan artikel anda di infoGue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!

2. si bolang - Januari 22, 2009

jadi ekspat ke kanada kayaknya oke juga nih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: