jump to navigation

Bangunlah Residual Income ! Februari 1, 2009

Posted by pengelolaan keuangan in Tips Keuangan.
trackback

Kenapa orang mesti bersusah payah bekerja ? mungkin itu sebuah “a stupid question” karena kebanyakan akan menjawabannya untuk mencari nafkah, duit-trus1dan jawaban lainnya mungkin bersifat klise – seperti misalnya ingin melayani orang lain atau bekerja karena dorongan aktualisasi diri dan sebagainya. Namun tujuan akhir dari sebuah pekerjaan adalah adanya imbalan dalam bentuk penghasilan atau pendapatan atau imbalan dalam bentuk lain sebagai balasan atas hasil jerih payah usaha yang telah dilakukan.

Pada dasarnya ada dua tipe penghasilan yaitu penghasilan linear dan penghasilan residual. Penghasilan linear adalah imbalan langsung yang diterima sebagai imbalan penghargaan atas pekerjaan yang telah dikerjakan. Sedangkan penghasilan residual adalah pengasilan yang tetap diterima meskipun pekerjaan telah selesai dilaksanakan. Contoh penghasilan residual adalah royalty yang diterima oleh pengarang buku. Sepanjang buku yang diproduksi masih laku terjual maka pengarang buku masih berhak menerima penghasilan dari hak royalty buku karangannya.

Kenapa kita perlu membangun residual income ? Membangun residual income memang tidak mudah karena membutuhkan talenta yang tinggi dan hasil titian sebuah proses yang panjang. Seringkali memang orang menjadi lupa bilamana dia sudah bekerja disebuah entitas organisasi atau pihak lain, posisinya pada kondisi nyaman. Sebenarnya bekerja dengan pihak lain maka dia menjadi terikat hukum barter uang dan waktu (Hengki Ferdianto). Maksudnya kita akan mendapatkan imbalan uang bilamana kita menyediakan waktu dan usaha untuk kepentingan pihak lain, sebaliknya bilamana kita tidak dapat meluangkan waktu kita untuk pihak lain maka kita tidak akan mendapatkan imbalan uang.

Dari situasi ini terlihat ketidak independensi diri kita, karena kita akan menjadi obyek bukan menjadi subyek/pelaku, dan tentu saja nasib kita sangat ditentukan oleh pihak lain. Ingat kisah karya Burke Hedges dalam bukunya ”The Parable of the Pipeline”, atau kalau diterjemahkan adalah kisah “Manusia Pipa dan Manusia Pembawa Ember”. Kisah ini memang sangat inspiratif untuk membangkitkan kesadaran kita akan pentingnya mempersiapkan masa depan. Dimana dikisahkan bahwa dahulu di Italia pada tahun 1801 hiduplah dua orang bersaudara bernama – Pablo dan Bruno”. Dua pemuda bersaudara ini rajin bekerja dan punya ambisi besar untuk sukses. Mereka mendapatkan pekerjaan dari penduduk didesanya untuk membawa/mengisi tempat penyimpanan air warga desanya. Untuk setiap ember air yang dibawa, mereka berdua diberi upah. Dari hasil upah membawakan air ini kedua pemuda ini tergolong sejahtera. Namun Pablo sadar bahwa fisik dia tidak akan selamanya muda dan kuat. Maka muncul ide dia untuk membangun jaringan pipa yang menghubungkan antara sumber mata air dan tempat penampungan air warga. Namun Bruno tidak setuju dengan gagasan saudaranya ini, karena Bruno sudah merasa nyaman sebagai pekerja pembawa ember air. Akhirnya Bruno mengerjakan menyambung pipa air tersebut seorang diri yang ia lakukan setelah mengerjakan tugas mengisi tempat penampungan air warga desa. Butuh waktu lama Bruno menyambung pipa air itu, pada saat sambungan pipa ini selesai ternyata mereka berdua sudah tidak muda lagi dan sekuat dulu lagi. Nah pada saat ini nasib antara Pablo dan Bruno berbeda. Kemampuan Pablo dalam mengangkat ember air sudah sangat jauh berkurang sehingga upah yang diterima menjadi sedikit. Sedangkan Bruno pada saat ini dia mulai merasakan manfaat dari usaha jerih payah yang dia bangun selama ini. Dengan membuka kran air yang menghubungkan antara sumber air dan tempat penampungan air warga maka dia memperoleh penghasilan tanpa perlu capek membawanya ember air. Pipa air inilah yang memberikan rizki bagi Bruno tanpa perlu bersusah payah, tak perlu bekerja lagi, tak peduli siang atau malam, rizkinya tetap mengalir.

Demikianlah bahwa kita tidak boleh terlena dengan segala kenyamanan yang kita peroleh selama ini karena tidak akan selamanya begitu. Kalau kita bekerja dengan pihak lain, kalau kita masih membawa manfaat bagi pihak yang mempekerjakan kita tentu kita akan diberikan imbalan, nah kalau kita sudah loyo karena fisik dan mental yang sudah menurun ? bagaimana nasib kita dan keluarga kita selanjutnya ? perlu kita fikirkan sebelum itu terjadi.

Kalau menurut hemat saya (silahkan untuk disempurnakan) residual income ini dapat diperoleh dengan membangun akumulasi: 1. orang, 2. intelektual dan 3. aset investasi. Setiap elemen dari tersebut mempunyai potensi ekonomi yang dapat diberdayakan untuk menghasilkan streamline penghasilan. Sebagai contoh disini misalnya membangun akumulasi orang. Dengan membentuk jaringan semacam sistem multi level marketing (mlm) menjadi suatu komunitas orang karena kesamaan kebutuhan misalnya, maka akan tercipta niche market yang sangat potensial dapat kita gunakan sebagai sumber pemasaran produk/jasa. Maka dari komunitas ini bisa mendatangkan streamline penghasilan yang akan terus mengalir meskipun kita tidak melakukan pekerjaan tersebut lagi. Dipenghujung kata salah seorang yang sukses membangun residual income dan patut kita tiru langkahnya adalah pengarang cerita asal Inggris : JK Rowlings. Kekayaan pengarang berusia 37 tahun itu menurut London Times dari hasil royalti serial Harry Potter sudah mengumpulkan total kekayaan $ 577 juta menggeser posisi ratu Inggris sendiri. Memang tidak mudah mencapai itu semua, namun kalau dia bisa kenapa kita tidak.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: