jump to navigation

7 Cara Membeli Kebahagiaan Februari 6, 2009

Posted by pengelolaan keuangan in Retrospeksi.
trackback

Kaleidoskop Celebrity 2008, “18 Artis Cerai, Rata-Rata karena Orang Ketiga, kehidupan selebriti Indonesia di tahun 2008 masih diwarnai kasus perceraian. Tak jarang perceraian itu mengandung kontroversi dan sensasi. Jika dirata-rata penyebabnya orang ketiga”, Okezone.

praon-021Berita perceraian artis di berita infotainment sepertinya tidak pernah habis, kayak kereta api yang gerbongnya panjang banget. Buat kebanyakan orang memang dunia artis adalah dunia glamor yang penuh gebyar yang menarik perhatian orang. Pesona dunia seleb ini ibarat menghipnotis perhatian khalayak banyak sehingga potensi tersebut dimanfaatkan sebagai lahan bisnis dunia pers. Bagaimana tidak menarik, “aksesoris” yang dipunyai para selebritis tersebut memang menjadi dambaan kebanyakan orang. Menjadi orang yang tampan/cantik + kaya raya + namanya terkenal adalah impian kebanyakan orang. Seolah-olah ukuran kebahagiaan adalah dengan memiliki atribut tersebut.

Namun dari para selebritis inilah kita bisa berkaca mengenai kehidupan, bahwa kebahagiaan tidak dapat diukur dengan semua elemen palsu tersebut. Hampir semua keluarga seleb ini berakhir dengan “kisah sedih dihari minggu”, bubar jalan. Akhirnya para seleb ini menjadi golongan orang yang “kurang bahagia”. Kini mereka dan kita berada pada posisi yang tidak jauh berbeda karena masih harus belajar mencari makna kebahagiaan hidup. Sepertinya kita harus kembali ke petuah lama dimana kebahagiaan ini tidak dapat diukur dengan ukuran material semata. Kalau bukan ukuran material untuk menjadikan bahagia, lalu faktor apa yang akan membahagiakan kita ? Kebanyakan orang memang tidak tahu jawabannya tentang bagaimana memenuhi kebahagiaan diri. Hal ini membuktikan asumsi dari banyak studi penelitian yang menyatakan bahwa kebanyakan orang memang tidak tahu bagaimana dapat mewujudkan kenyataan bagaimana dapat membuat diri mereka bahagia.

Ada sebuah artikel dari MP Dunleavey yang sangat menarik dimana bercerita tentang elemen-elemen mendasar yang sebenarnya dapat memuaskan manusia dalam “membeli” kebahagiaan :

  • Persahabatan

    Pertemanan, hubungan romantis, hubungan keluarga dengan pasangan dan anak sering memberikan manfaat terhadap kesehatan mental kita. Menurut Martin Seligman, seorang psikolog, menyatakan bahwa orang yang mempunyai ikatan/hubungan kuat dengan orang lain akan mempunyai kecenderungan lebih bahagia dan sehat serta panjang umur. Jadi kalau mau bahagia berinvestasi dalam menjalin pertemanan.

    • Waktu

      Bersediakah anda menukar uang yang anda punya dengan tambahan waktu luang? Menurut riset dari majalah Fortune kebanyakan orang akan menyatakan bersedia. Waktu adalah salah satu aset yang sering dikeluhkan orang karena merasa kekurangan waktu. Coba kita ingat kembali bilamana ada hari libur panjang selain hari Sabtu- Minggu, kebanyakan dari kita akan merasa senang atau bahagia. Membuat jadwal kegiatan dan disiplin waktu akan lebih menjadikan waktu luang kita menjadi lebih efektif.

        • Kesehatan

          Salah satu faktor penentu kesehatan adalah faktor genetis, namun kebanyakan gangguan kesehatan berasal dari gaya hidup kita. Kalau jatuh sakit maka segala kenikmatan akan hambar rasanya. Coba bayangkan bilamana makan ayam goreng pada saat anda sakit. Tentu nikmat kelezatan rasa ayam dan bubur akan sama rasanya, hambar. Maka berinvestasilah dengan kesehatan anda dengan olah raga yang teratur dan menjalani pemeriksaan rutin. Ingat “men sana in corpore sano”, dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat. Menyeimbangkan kesehatan jasmani dan rohani akan meningkatkan kebahagiaan pribadi.

            • Kesempatan belajar

              Manusia dilahirkan adalah untuk untuk berkembang. Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi yang menemukan concept of “flow” mengemukakan bahwa seringkali orang merasa senang bilamana dia dapat menuntaskan tantangan tugas yang diembankan kepadanya (“suggests we are often happiest when engaged in activities that challenge us and hold our focus”). Jadi berinvestasi dengan memberikan tantangan kecil, misalnya, dengan bergabung dalam tim band amatir atau ikut rafting akan memberikan kepuasan pribadi karena adanya tantangan yang harus diatasi.

                • Berkurangnya hutang

                  Salah satu ciri manusia modern adalah tidak lepas dari peran dan fungsi perbankan. Jadi manusia modern akan terbiasa dengan hutang bank. Kalau anda punya hutang bank sama dengan saya, adalah manusia modern. Adakalanya ada yang beranggapan bahwa dengan berhutang akan mengurangi kualitas hidup, karena salah alokasi pengeluaran kita adalah membayar cicilan hutang sehingga “disposable income” kita menjadi menciut. Dan ujungnya adalah menambah tingkat stres, apalagi kalau default bakalan dikejar sama “debt collector”. Oleh karena itu bilamana anda mempunyai kelebihan dana, dengan meningkatkan cicilan hutang akan berdampak mengurangi stres anda.

                    • Keihlasan memberi

                      Agama mengajarkan kepada manusia untuk saling memberi, ternyata manfaatnya luar biasa. Studi menunjukkan bahwa dengan memberi akan menimbulkan ikatan kuat dengan lingkungan sosial dan dukungan yang saling menguntungkan yang akhirnya adalah memberikan citra diri positif.

                        • Keamanan

                          Dalam kondisi krisis seperti sekarang ini sangat mengurangi kebahagiaan banyak orang. Kondisi krisis ini banyak mengacaukan rencana jangka panjang program pensiun pegawai. Kalau kita lihat dampak krisis finansial di Amerika saat ini sangat merugikan para calon atau pensiunan, karena menggangu portfolio retirement plan mereka. Dengan kejadian ini tetaplah berinvestasi meskipun dengan nominal yang kecil dapat berdampak ganda dalam menggapai kebahagiaan : menciptakan kedamaian dan meningkatkan kekayaan. Selain itu tetap sederhana dengan mengurangi keinginan belanja akan berdampak kepada jumlah uang tabungan yang semakin banyak, berkurangnya hutang dan kemampuan mengendalikan keuangan, dan akhirnya tercipta perasaan lebih bahagia.

                          Komentar»

                          1. nusantaraku - Maret 7, 2009

                          Menurut saya, ada tambahan satu lagi yakni bahagia atau tidak bahagia bukan datang dari aspek eksternal semata, namun lebih karena datang dari persepsi atau pandangan pikiran kita.
                          Karena diri sendiri yang mematok standar bahagia yang terlalu jauh dan tidak mengenal diri kita, maka kebahagian akan menjadi bayangan setan dan akhirnya ketika tidak mampu meraihnya, maka kita hancur lebur (jika tidak ada mental humble dan gratefull).
                          Btw, salam kenal.
                          Terima kasih telah meninggalkan jejak di tulisan saya. Oleh karena itu, saya telah memasukkan link Saudara di link blogroll saya agar kedepan dapat berkomunikasi lebih lanjut
                          Trims


                          Tinggalkan Balasan

                          Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

                          Logo WordPress.com

                          You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

                          Gambar Twitter

                          You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

                          Foto Facebook

                          You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

                          Foto Google+

                          You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

                          Connecting to %s

                          %d blogger menyukai ini: