jump to navigation

Kenapa Orang Melakukan Korupsi ? Maret 7, 2009

Posted by pengelolaan keuangan in Retrospeksi.
trackback

Baru-baru ini media massa mengekspose kembali berita tertangkapnya seorang anggota ”dewan yang terhormat” saat menerima ”sumbangan” terkait dalam sebuah proyek pengembangan pelabuhan yang melibatkan sebuah institusi pemerintah. Kasus terakhir ini adalah sebuah noktah dari rentetan kejadian yang beberapa kasus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang dapat diungkap oleh lembaga penegak hukum. Dari beberapa kasus tersebut ada hal yang dapat kita cermati terutama kasus yang terkait dengan beberapa anggota wakil rakyat. Seperti kita ketahui bahwa para anggota wakil rakyat tersebut sering dikritisi oleh elemen masyarakat karena fasilitas negara yang disediakan untuk mereka baik berupa gaji, tunjangan dan segala kenikmatan lainnya sudah tergolong bagus dan mengundang perasaan iri dari masyarakat pada umumnya. Dari kasus terakhir ini mungkin dapat mematahkan persepsi masyarakat pada umumnya bahwa penyebab utama perilaku korupsi adalah karena penghasilan yang rendah dan tidak memadai. Namun ternyata dengan penghasilan dan fasilitas yang baguspun masih mendorong orang untuk melakukan KKN. Jadi hal apa yang melandasi orang melakukan tindakan korupsi ?

Pada dasarnya motif /alasan yang mendorong seseorang melakukan tindakan korupsi ada dua penyebab yaitu dorongan kebutuhan (need driven) dan dorongan kerakusan (greed driven). Memang sama2 korupsi namun ternyata latar belakang orang melakukan perilaku tercela itu memang berlainan. Sebenarnya perilaku korupsi ini telah mengakar di elemen masyarakat luas, tidak hanya terjadi di institusi baik pemerintah ataupun swasta baik dilakukan oleh aparatur pemerintah ataupun pegawai swasta.

Masyarakat kita sebenarnya sudah mempraktekkan perilaku korup dari yang besar hingga yang kecil, jenjang tinggi hingga jenjang bawah. Dalam kasus koupsi kecil-kecilan ini, mungkin kita agak kasihan juga melihat penghasilan para pegawai tersebut yang hanya cukup untuk menunjang belanja mereka dalam kisaran minggu atau beberapa hari saja, sehingga untuk menutupi kekurangan penghasilannya ditutup dengan melakukan perbuatan tercela (need driven). Atau contoh lain, pada saat kita berbelanja dipasar, apakah kita yakin bahwa beras yang kita beli sesuai dengan kwantitas atau kwalitas yang kita minta ? ahh… sangat jarang para pedagang yang mau jujur dengan pelanggannya, meskipun tidak semuanya berperilaku demikian. Namun adakalanya korupsi dilakukan karena adanya desakan untuk memperoleh kenikmatan dan kenyamanan hidup dengan selera tinggi sedangkan daya dukungnya tidak memadai, sehingga korupsi adalah jembatan emas untuk mencapai impiannya (greed driven).

Praktek korupsi berkembang pada situasi dimana job security tinggi dengan tingkat profesionalitas yang rendah sehingga para pegawai tersebut sering menyalah gunakan kewenangannya untuk memenuhi keinginannya daripada pelaksanaan tugas yang seharusnya dia laksanakan. Namun kalau ditelaah sebenarnya penyebab timbulnya perilaku korup disebabkan adanya beberapa faktor, yaitu :

* Perilaku yang bersumber budaya masyarakat

Perilaku korupsi memang sangat berbeda pemahamannya antar budaya masyarakat terutama budaya lain bangsa. Kita ambil contoh adalah budaya masyarakat Jepang yang terbiasa memberikan ”omiyage” atau cendera mata kepada mitra bisnisnya. Atau contoh lain adalah budaya masyarakat Afrika pada umumnya yang terbiasa memberikan reward berupa memberi tambahan hadiah bilamana layanan jasa telah diberikan oleh suatu pihak. Jadi bentuk rasa terimakasih dalam bentuk tip ini adalah sudah menjadi bagian budaya yang melekat di masyarakat yang sangat sulit untuk diubah, dan bilamana ada pihak yang berusaha mengilangkannya dapat dianggap sebagai tindakan yang menentang nilai budaya masyarakat tersebut.

Namun sebenarnya perilaku korupsi yang sangat meresahkan adalah berakar atau bersumber dari adalah perasaan tamak/rakus (greed driven) daripada sekedar berasal nilai budaya masyarakat. Jadi masyarakat harus mempunyai standar kepatutan dari sebuah figur orang dalam mengampu sebuah jabatan, bilamana figur tersebut mempunyai sesuatu diluar standar kepatutan maka masyarakat perlu bertanya darimana sesuatu miliknya itu berasal.

* Jenjang diskresi yang dimiliki

Bilamana sebuah diskresi dilakukan dalam sebuah organisasi oleh orang-orang dengan kekuasaan yang relatif besar, diperkenankan mengintepretasikan dan menjabarkan diskresi tersebut dalam kebijakan2, dan ketiadaan akuntabilitas maka dikhawatirkan akan menimbulkan praktek korupsi dari dorongan tamak dalam melaksanakan diskresi tersebut. Di negara yang belum berkembang seringkali para pemimpin politiknya tidak memberikan contoh yang baik dalam melaksanakan kejujuran, kredibilitas, transparansi serta menjaga integritas.

* Tiadanya transparansi/keterbukaan

Apabila suatu tugas dan fungsi pekerjaan dilaksanakan dengan sifat kerahasiaan yang melekat akan mendorong timbulnya korupsi. Jadi adanya proses keterbukaan dengan lebih memberikan kesempatan kepada elemen masyarakat dan media massa untuk mengakses layanan publik adalah bagian dalam fungsinya menjalankan sebagai kontrol yang akan menekan angka korupsi.

* Ketiadaan akuntabilitas

Dinegara yang demokratis seharusnya antara pemimpin dan aparatur pelayanan masyarakat seharusnya akuntabel kepada masyarakat yang dilayani. Akuntabel dalam artian dapat menjelaskan atau memberikan argumentasi mengenai pelaksanaan suatu kebijakan atau pelaksanaan keputusan kepada masyarakat yang dilayani. Bilamana akuntabilitas ini tiada, maka korupsi akan meningkat.

* Ketiadaan lembaga pengawas

Perananan lembaga pengawas ini sangat penting keberadaannya baik adanya lembaga pengawas internal maupun eksternal. Salah satu tugas lembaga pengawas ini adalah melakukan proses investigasi adanya dugaan korupsi berasal dari keluhan masyarakat. Bilamana lembaga semacam ini tidak ada maka para aparatur akan mendapatkan keuntungan dengan lemahnya fungsi kontrol tersebut, ataupun bilamana pelaku korupsinya tertangkap tangan maka proses hukumnya tidak akan membuat jera pelaku korupsi.

Namun dewasa ini persepsi masyarakat dunia sudah mulai mengkerucut mulai adanya kesamaan persepsi tentang perilaku yang dapat dikategorikan sebagai tindakan korup. Dengan adanya diseminasi informasi akibat proses globalisasi mengakibatkan adanya unifikasi perilaku diberbagai belahan dunia termasuk mengenai persepsi tentang korupsi. Salah satu inisiator dari proses pembenahan internal suatu negara dalam menuju status negara yang bersih adalah Transparency Internasional. Sebuah organisasi nirlaba yang terus merilis laporan tahunan mengenai peringkat suatu negara dalam hal index persepsi korupsi. Index ini bercerita tentang persepsi umum mengenai tingkat korupsi yang dirasakan ada sektor pelayanan publik dan politisi negara. Negara yang disurvey cukup komprehensif dengan memeringkat 133 negara untuk rilis tahun 2003 dan ditahun 2007 sudah memeringkat 180 negara. Indonesia yang beberapa tahun lalu terpuruk masuk dalam negara yang terkorup dikawasan Asia, sekarang posisinya sudah ada peningkatan persepsi yang semakin bersih meskipun posisinya masih dibawah Vietnam.

Sekelumit cerita lain yang mungkin membuat kita MALU mengenai perilaku masyarakat Indonesia yang dekat dengan perilaku korup. Pernah beberapa tahun yang lalu istri saya mengikuti sebuah workshop mengenai sumberdaya manusia di negara tetangga dimana pesertanya berasal dari beberapa negara, pada suatu sesi dibahas tentang praktek korupsi, kebetulan case yang dibahas adalah sebuah cerita korupsi dengan beberapa atribut yang mirip terjadi di Indonesia misalnya dengan nama-nama orang Indonesia. Wah….mau ditaruh dimana muka kita nih. Sebenarnya perilaku jelek kita ini sudah menjadi bahan kajian akademis diberbagai universitas dunia (termasuk Harvard University) dalam mendefiniskan korupsi.

Jujur saja memang sangat sulit untuk melakukan niat baik untuk melakukan kegiatan pekerjaan secara bersih 100 %, minimal untuk waktu kerja saja masyarakat kita sering tidak jujur. Akhir kata kondisi ini dapat sebagai sebuah proses introspeksi bagi bangsa kita agar mau belajar bahwa dengan adanya globalisasi kita harus berbenah diri menjadi suatu bangsa yang lebih terhormat dan bermartabat dimata bangsa lainnya.

Sumber : Wiki.Answers.com

Komentar»

1. hafidzi - Maret 9, 2009

kalo bicara masalah uang…..setiap ada kesempatan psti mikirnya cari untung….

2. mancung64 - Maret 16, 2009

Menurut saya,itu terjadi krn manusianya tdk pernah merasa puas atau kurang mensyukuri nikmat yg sdh di perolehnya.

3. Hana - Mei 7, 2010

Karena mereka tidak puas dengan kekayaan mereka. Dan mereka memanfaatkan jabatan mereka…

4. Anonim - Februari 11, 2011

waacchhh korup banyak arti luas trnyata…
thankz, jdi bsa bkin pidato korup


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: