jump to navigation

Kenapa Uang Tidak Dapat Membeli Kebahagiaan Maret 18, 2009

Posted by pengelolaan keuangan in Retrospeksi.
trackback

Artikel ini adalah sebagai pelengkap dari artikel sebelumnya – Apakah uang dapat membeli kebahagiaan ? – antara kedua artikel ini yang memang ada benang merah keterkaitan. Keduanya saling melengkapi dimana intisarinya bahwa kita harus sadar bahwa uang bukanlah segalanya untuk menggapai kebahagiaan. Artikel ini terjemahan dari artikel yang dipublish di Newsweek dengan judul aslinya adalah “Why Money Doesn’t Buy Happiness”. Saya angkat kembali tema ini karena saya rasa ada baiknya untuk di share dengan anda sekalian agar kita lebih cerdas dan jernih melihat kekayaan itu tidak hanya dipandang dari kecerdasan akal saja namun juga kecerdasan batin agar kehidupan kita lebih balance.  Para ahli ekonomi dan psikolog dan juga kita semua, telah lama bertanya2 karena ada asumsi kenapa dengan uang lebih banyak akan membuat kita lebih senang. Berikut ini adalah argumentasi yang mungkin dapat menjelaskan kepada kita semua kenapa semua itu bisa terjadi. Kita selama ini telah salah dalam mengambil kesimpulan dalam menjawab sebuah pertanyaan abadi yaitu “apakah uang dapat untuk membeli kebahagiaan ?”

Ketika para ekonom berusaha menjawab pertanyaan tersebut, mereka memulainya dengan mengadakan sebuah observasi bahwa ketika dalam sebuah bursa/pasar jual-beli, orang2 yang datang kesana ada yang berniat sebagai penjual dan ada sisanya sebagai pembeli. Dari sisi penjual akan berusaha menjual atau mendapatkan uang sebanyak2nya sedangkan dari sisi pembeli adalah berusaha membayar barang yang dibelinya dengan uang se-dikit2nya. Dari kejadian tersebut antara posisi penjual dan pembeli, para ekonom melihat bahwa penjual akan terlihat/berusaha senang bilamana mendapatkan uang sebanyak2nya (maximize) dan bagi pembeli, ia akan merasa senang bilamana menyisakan uang lebih banyak atau mengeluarkan uang se-dikit2nya (minimize). Oleh karenanya dapat ditarik benang merah bahwa dengan memiliki uang lebih banyak akan lebih baik daripada memiliki uang sedikit karena akan mendatangkan kesenangan (bahagia). Akhirnya para ekonom membuat premis bahwa dengan uang lebih banyak seharusnya membuat orang lebih senang.

Namun anehnya banyak orang kaya yang merasa tidak bahagia, misal CEO organisasi, dan orang2 kaya, mereka merasa tidak bahagia bahkan kemudian melakukan perbuatan tercela dengan menyakiti diri sendiri atau bunuh diri, karena rasa sedih yang tidak tertanggulangi. Dari peristiwa ini membuktikan bahwa asumsi sebelumnya dengan uang lebih banyak akan lebih membahagiakan adalah sebuah kebohongan. “Para ahli psikologi sudah mempelajari fenomena ini selama puluhan tahun untuk menyingkap tabir hubungan antara kekayaan dan kebahagiaan”, ujar psikolog dari Universitas Harvard Daniel Gilbert dalam buku best sellernya “Stumbling on Happiness”. Akhirnya para psikolog mengambil kesimpulan bahwa kekayaan akan meningkatkan rasa bahagia bagi seseorang bilamana dengan kekayaan itu mengangkat jenjang/stata sosialnya dari jenjang masyarakat miskin menjadi strata masyarakat kelas menengah, sedangkan untuk strata berikutnya pengaruh kekayaan terhadap kebahagiaan seseorang adalah tidak banyak.

Dalam sebuah gambaran intuisi, bukan merujuk kepada sebuah teori ekonomi, dimana dalam standar ekonomi bahwa bilamana seseorang diharuskan membuat suatu keputusan dalam membeli komoditas pokok bila dia diberikan tambahan kemampuan ekonomi maka dia akan memperbanyak pilihan, misalkan, bila dikantung anda ada uang Rp 500 ribu maka anda bisa saja pergi ke warteg, warung padang atau bahkan ke sebuah restoran untuk makan steak dengan pilihan daging sapi impor ataupun lokal, namun bila dikantung anda hanya ada uang Rp 10 ribu maka anda harus rela makan malam anda di warteg saja. Jadi kesimpulannya adalah adanya tambahan kemampuan ekonomi (uang) akan mendorong anda memenuhi tambahan kebutuhan/keinginan, atau bilamana tambahan keinginan itu dapat terpenuhi maka anda seharusnya lebih senang.

Namun sulitnya, menentukan sebuah pilihan itu tidak semudah diduga orang. Dari berbagai penelitian memberikan penggambaran. Sebagai contoh disini adalah bila kita ingin membeli pasta gigi disebuah pusat perbelanjaan. Disana ada berbagai macam pasta gigi tersedia dan untuk memilih produk pasta gigi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan kita adalah sulit, dan ditambah lagi kita mempunyai kebiasaan jelek bahwa kita tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Sebenarnya kesulitan dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan ini adalah sebuah dampak dari suksesnya usaha industri periklanan (media-saturated culture) sehingga untuk memenuhi sebuah pilihan kebutuhan/keinginan ada banyak pilihan tersedia. Serta adanya perbedaan kepuasan pemenuhan antara kebutuhan dan keinginan, bilamana terpenuhi kebutuhan kita maka hanya akan memberikan sedikit rasa puas secara emosional sedangkan pemenuhan keinginan akan memberikan rasa kepuasan yang lebih tinggi.

Ada sebuah garis tidak linear yang menghubungkan tingkat kepuasan seseorang dilihat dari kenaikan status ekonominya, kenaikan kepuasan bilamana seseorang naik dari orang miskin menjadi jutawan maka kualitas rasa senang ini akan lebih besar dibandingkan kualitas kepuasan bila dia menjadi lebih kaya lagi misal menjadi milyarder. Dari survey global yang melakukan polling kualitas kepuasan seseorang bila dalam rentang skala 1 – 7, dimana skala 1 adalah “segalanya tidak menyenangkan dalam kehidupan saya” dan skala 7 yang berarti “segalanya menyenangkan dalam kehidupan saya”. Di hasil polling, para multijutawan di Amerika Serikat memberikan angka penilain hanya 5.8 sedangkan para tunawisma di Calcutta – India memberikan angka 2.9. Nah sebelum anda mengambil kesimpulan apakah segalanya dapat dibeli uang. Coba renungkan kembali siapa lagi yang akan memberikan skor 5.8 atau lebih, apakah suku Inuit di Utara Greenland yang tidak dalam kehidupan mewah, atau Suku Masai di Kenya yang tidak mengenal listrik dan sulit air, sedangkan penghuni rumah kumuh di Calcutta memberikan penilaian angka 4.6 (bandingkan skor tunawisma Calcutta 2.9). Jadi uang masih berpengaruh dari jenjang miskin (homeless) menjadi lebih mampu (slum dwellers), adanya kenaikan rasa puas dari skor 2.9 ke skor 4.6 (selisih 1.7 points), lebih kecil selisihnya bila status ekonominya naik lagi dicontohkan disini antara multijutawan AS – skor 5.8 dan slum dwellers– Calcutta skor 4.6 (hanya 1.2 points). Hal membuktikan ucapan Gilbert bahwa uang berpengaruh terhadap rasa senang/bahagia seseorang bilamana uang tersebut menaikan status ekonomi dia dari miskin menjadi kelas menengah (Ini hanyalah pendekatan dari sudut pandang ilmiah saja, apakah anda setuju atau tidak monggo saja)

Namun dari studi penelitian yang dilakukan dibelahan dunia lain menunjukkan kesamaan dengan hasil penelitian diatas. “Negara Jepang meskipun kenaikan angka GDP nya melejit dan negara-negara Eropa Barat yang booming setelah PD II juga menunjukkan rasa kebahagiaan warganya yang mendatar”, tutur social psychologist Ruut Veenhoven dari Erasmus University – Rotterdam. Penurunan tingkat kepuasan ini juga akibat pengaruh berkembangnya laju ekonomi, dimisalkan kepemilikan mesin cuci, dahulu mesin cuci adalah barang mewah (luxury) sedangkan kini adalah sebuah bentuk dari barang fungsional sesuai kebutuhan (necessity). Tingkat kepuasan orang kaya baru yang membeli mesin cuci tidak akan sama kualitas kebahagiannya antara sekarang dan dahulu. Warga AS yang berpenghasilan $50,000/tahun akan lebih senang dibandingkan dengan warga yang berpenghasilan $10,000/tahun. Namun warga yang berpenghasilan $5 juta/tahun tidak lebih bahagia dengan yang berpenghasilan $100,000/tahun. “Dalam konteks ekonomi, kesuksesan pertumbuhan ekonomi diukur dengan tingkat kemakmuran, dan itu salah satu sisi negatif paham materialisme”, simpul Diener dan Seligman

Jika uang tidak dapat membeli kebahagiaan, maka ingatlah kembali petuah lama yang mengajarkan bahwa kesehatan dan pertemanan adalah hal yang lebih membahagiakan. Atau ingat kata Diener dan Seligman bahwa sekali kebutuhan dasar kita terpenuhi maka kemakmuran hidup itu tidak terlalu berbeda dalam upaya mencapai kebahagiaan, berbeda dengan pertemanan dan kesenangan ditempat kerja. Peneliti lainnya menjelaskan bahwa kepemilikan hak asasi pribadi sebagai warga negara dan hidup dalam lingkungan yang demokratis yang saling menghargai hak dan aturan hukum lebih memberikan makna hidup terhadap seseorang. Oleh karena itu menurut Veerhoven seyogyanya kurangi investasi ekonomi dan dan lebih ditekankan pada kebijakan yang mendorong terciptanya good governance, liberties, democracy, trust and public safety.

Jadi meskipun uang tidak dapat membeli kebahagiaan, namun perilaku orang muda AS masih stereotip bahwa dengan berpenghasilan lebih banyak akan membahagiakan mereka, namun beberapa tahun kemudian mereka akan bergeser menjadi orang yang tidak bahagia. Orang-orang yang merasa sebagai manusia yang utuh (well-being) akan lebih produktif dan mendorong menjadi manusia yang lebih inisiatif dan kreatif serta ujung2nya akan berpengaruh kepada penghasilan mereka menjadi lebih tinggi. Terakhir, Gilbert mengingatkan kembali bahwa “ekonomi akan berkembang dan tumbuh bila masyarakatnya melebur kedalam sebuah kepercayaan bahwa peningkatan kekayaan akan membuat mereka bahagia…”

Ada fragment dari buku “You Are A Leader” nya Arvan Pradiansyah  yang saya rasa bagus sebagai penambah pengetahuan kita bahwa  kemajuan dalam bidang materi ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan bahkan menimbulkan masalah2 baru yang sulit terpecahkan. Gejala ini sebenarnya sudah ditangkap lama oleh salah seorang pemikir besar – Alexander Solzhenitsyn –    bahwa kemajuan bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi justru menimbulkan perasaan tidak aman secara spiritual kepada manusia. Kemajuan-kemajuan itu memang memperkaya namun sekaligus memperbudak kita. Apa yang kita capai semata-mata didasarkan pada kepentingan (interest). Semuanya adalah perjuangan untuk mendapatkan materi, namun suara hati kita mengatakan bahwa kita telah kehilangan sesuatu yang murni dan mencerahkan. Kita gagal melihat tujuan hidup kita.  Dan menurut Alija Izetbegovic – negarawan dan filsuf Bosnia – mengatakan bahwa mahluk yang hanya mengejar kepentingan, efektivitas dan efisiensi adalah hewan. Karena itu manusia yang hanya mengutamakan ketiga hal tersebut pada hakekatnya telah menurunkan harkat dan derajatnya sebagai manusia.

Komentar»

1. nusantaraku - Maret 24, 2009

Uang sebenarnya tidak salah. Yang salah adalah mental manusia.
Dengan uang banyak,kita bisa bahagia atau menderita, tergantung bagaimana kita mendapatkannnya dan bagaimana kita menggunakannya.
Nice posting.

2. nipponk - Maret 28, 2009

tengs for visiting my blog

3. candukzzzzzzzzzzzzzz - Agustus 13, 2009

artikel loe bagus ………..

4. maria - Agustus 19, 2010

Uang itu perlu tapi bukan segala-galanya. Tergantung bagaimana kita memnanfaatkannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: