jump to navigation

Semoga Harga BBM Tidak Naik Setelah Pilpres April 14, 2009

Posted by pengelolaan keuangan in Fenomena Keuangan.
trackback

Anda ikut “nyontreng” pemilu untuk calon legislatif kemarin ? Semoga saja hasil pemilu ini dapat membuahkan hasil yang dapat diterima semua pihak dan tidak menimbulkan konflik. Kalau para politisi yang tidak puas dengan hasil pemilu biar antar mereka saja yang berantem bukan “rakyat” ( yang katanya selalu menjadi tujuan perjuangan politik kilangeka) menjadi sengsara. Dan kita masih menunggu satu tahapan lagi yaitu pemilu untuk pemilihan calon presiden. Bukannya mau ikutan kampanye pemilu capres dengan mengangkat isu BBM sebagai tema kampanye mereka. Orang awam bisa kalang kabut seolah-olah hidupnya menjadi susah, atau dari kalangan pebisnis akan melihat suram prospek usaha mereka bila harga BBM (bersubsidi) melonjak naik. Memang konsumsi BBM sangat menyentuh hajat hidup orang banyak. Jadi persepsi bahwa harga BBM ini akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan masyarakat. Pengeluaran masyarakat bisa membengkak ataupun mengecil bila harga eceran BBM ini naik ataupun turun. Bisa jadi sebuah pemerintahan menjadi populer ataupun tidak populer dikarenakan harga BBM. Karenanya wajar pula isu harga BBM sering digunakan kandidat capres untuk mempengaruhi massa agar terlihat populis

Nah ini ada info sedikit tentang perhitungan harga BBM (bersubsidi). Semoga abis baca postingan ini anda bisa memperkirakan sendiri bakalan naik enggak sih harga BBM abis pemilu capres. Jadi anda sudah mempunyai pendirian/pandangan sendiri apakah para capres ini cuma ngibul atau realistis dalam tebar pesona. Mungkin anda perlu tahu ada beberapa jenis BBM, baik BBM bersubsidi (mis: solar dan premiun) dan ada pula BBM yang non subsidi (mis : pertamax, pertamax plus, dsb). Seringkali kita sebagai masyarakat awam tidak paham mengenai penentuan harga jual eceran BBM di SPBU.

Pada dasarnya dalam kebijakan harga bahan bakar dalam negeri ada dua macam yaitu harga jual eceran dan patokan. Harga jual eceran adalah harga jual bensin di SPBU sedangkan harga patokan adalah harga MOPS ditambah alpha. Nah harga MOPS itu apa ? alpha juga apa ? MOPS adalah Mean of Platts Singapore yang merupakan penilaian produk untuk trading minyak di kawasan Asia yang dibuat oleh Platts -anak perusahaan McGraw-Hill. Sedangkan alpha merupakan margin keuntungan dan fee distribusi yang jumlahnya sebesar 14,1% dikurangi dengan harga jual eceran per liter jenis BBM tertentu di Indonesia yang akan menjadi besar patokan subsidi untuk tiap liter jenis BBM tertentu.

Dari penjelasan diatas kita dapat membuat formulasi harga BBM :

* harga eceran = harga BBM yang kita beli di SPBU

* harga patokan = MOPS + alpha

bila :

* Harga eceran > harga patokan, maka selisihnya menjadi surplus sbg penerimaan APBN

* Harga eceran < harga patokan, maka selisihnya adalah subsidi APBN.

Dalam penentuan harga BBM ini selain mempertimbangkan harga keekonomian, pemerintah juga harus mempertimbangkan stabilitas pertumbuhan ekonomi makro dalam rangka menjaga/meningkatkan daya beli masyarakat serta menggerakkan kegiatan usaha sektor riil.

Melepaskan harga eceran BBM (solar dan premium) sesuai dengan mekanisme harga pasar tentu akan membawa banyak konsekuensi yang harus dipertimbangkan akibatnya. Kalau kita monitor perkembangan harga minyak dunia menunjukkan tingkat fluktuasi yang sangat tajam. Pergerakan harga minyak dunia tahun 2008, berfluktuasi dari US$ 91/barel (Januari) kemudian melonjak tajam hingga ke harga US$ 135/barel (Juli) dan kembali mengalami penurunan harga menjadi US$ 39/barel (Desember). Sedangkan pemerintah ingin menjaga stabilitas agar tercipta iklim yang kondusif untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Dari kondisi harga minyak di tahun 2008 kemarin, pemerintah memberikan kenaikan subsidi BBM dari bulan Februari hingga Oktober, sedangkan bulan November dan Desember adanya surplus.

Sejak memasuki tahun 2009 ini, pemerintah terus memantau perkembangan harga minyak internasional. Kemudian karena adanya penurunan harga minyak dunia diakhir tahun 2008 maka dikeluarkanlah kebijakan penurunan harga BBM (solar dan premium) pada tanggal 15 Januari 2009 (dengan mempertimbangkan ekspektasi harga minyak internasional dan stabilitas kurs Rupiah). Namun menginjak awal 2009, harga minyak internasional kembali menunjukkan pergerakan naik dari US$ 33/barel (Januari 2009) menjadi US$ 41/barel (Februari 2009) serta kurs tukar Rupiah yang melemah hingga Rp 11.800/US$. Asumsi harga minyak di APBN 2009 adalah US$ 45/barel sedangkan beberapa saat yang lalu perkembangan harga minyak internasional sudah mencapai US$ 52/barel. Melihat perkembangan situasi baik dari sisi harga minyak internasional dan moneter, kita berharap harga BBM eceran ini tidak dikoreksi kembali sehingga terjadi kenaikan harga BBM eceran menimbang asumsi harga minyak di APBN sudah terlampaui. Semoga harga minyak internasional tidak menjadi liar kembali sehingga kita tidak menjadi ikut susah karenanya.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: