jump to navigation

Caleg Gagal dan Depresi Keuangan April 19, 2009

Posted by pengelolaan keuangan in Fenomena Keuangan.
trackback

Setelah pesta pora demokrasi pemilu legislatif berlalu, segera menyisakan kisah-kisah pilu dari para caleg yang gagal memperoleh kursi di lembaga perwakilan. Ada-ada saja kelakuan mereka setelah gagal terpilih. Ada yang kemudian meminta kembali “sumbangan” mereka yang telah diberikan kepada masyarakat. Ada yang berusaha membongkar jalan beton, ataupun mencabut kembali tiang listrik hasil sumbangan tersebut. Kebanyakan dari mereka yang membuat ulah ini bukanlah caleg kawakan. Mereka adalah para new comer atau new faces dimana masyarakat masih asing mengenal nama ataupun wajah mereka. Jadi wajar saja kalau iklan kampanye mereka seringkali melakukan co-branding dengan “melampirkan” wajah/sosok sesepuh/mbaurekso partai afiliasinya. Lantas bagaimana konsep visi misi pengabdian mereka ? wah tambah gelap lagi. Mereka seringkali hanya mencantumkan nama, wajah dan partainya saja, urusan konsep dan program kerja sedikit yang mereka kampanyekan. Jadi tidak heran bagi para caleg new faces ini masih menggunakan konsep pendulangan suara dengan cara lama yaitu money politics, ada yang menyumbang uang, semen, karpet, barang pecah belah, dsb. Dengan harapan pemberian gimmick ini bakal mampu mendulang suara bagi mereka. Namun tampaknya masyarakat telah berubah, masyarakat kini lebih dewasa dan melek informasi sehingga mereka sudah bisa memilih caleg yang dianggap mempunyai kecakapan, sehingga meskipun dengan mendapatkan materi dari caleg, suara yang diharapkan mereka dapatkan masih tetap tidaK keluar alias bisu.

Memang pemilu kali ini (2009) adalah pemilu fenomenal, dengan adanya undang-undang pemilu terakhir memungkinkan para caleg untuk bertarung langsung memperebutkan suara di masyarakat. Kalau dahulu caleg partai haruslah urut kacang, jadi caleg yang bakal terpilih adalah dimulai dari caleg nomer kecil. Sekarang berapapun nomer urutnya, gak ngaruh, semua sama kesempatannya. Jadi dengan kesempatan yang terbuka ini mendorong masyarakat, baik yang benar-benar memperjuangkan aspirasi rakyat ataupun mereka yang hanya mendompleng ikut tenar di pemilu jadi bejibun ikut mendaftar. Menurut catatan dari situs Okezone, calon legislatif yang lolos penyaringan KPU sebanyak 11.868 orang dari 38 partai politik. Dengan jumlah caleg yang ruar biasa banyak ini, ada dampak positifnya yaitu ikut mendorong ekonomi sektor riil. Banyak industri yang ikut menikmati keuntungan adanya pemilu kali ini, misalnya : jasa transportasi baik darat atau udara; industri tekstil dan percetakan (baliho; spanduk dsb) ataupun penyediaan jasa tim sukses, dan masih banyak lagi.

Jadi meskipun dunia masih dilanda krisis, Indonesia masih hingar bingar menikmati pesta demokrasi. Sehingga tanpa sadar bahwa sebenarnya kita masih dalam kondisi krisis. Dari setiap caleg yang ikut berpartisipasi mereka harus mempersiapkan amunisi kampanye, yang mungkin jumlahnya tidak kecil. Dari informasi dari situsnya Republika, untuk setiap orang harus menyediakan anggaran minimal Rp 200 juta. Jadi dari daftar caleg yang hampir 12 ribu orang dikali 200 juta rupiah hasilnya adalah adanya uang yang mengalir sebanyak 2,5 triliun (ini hanya perhitungan sederhana saja). Nah duit 2,5 T yang mengalir di masyarakat ini lumayan besar karena sektor yang menikmati manisnya duit kampanye di nikmati hingga sektor ekonomi terbawah atau UMKM, misalnya para tukang ojek yang keseringan ikut kampanye atau para tukang sablon yang kebanjiran order. Belum lagi kampanye dari masing-masing partai politik, uang yang berputar terkait pemilu bakalan membesar lagi, misalkan saja parta sekelas PAN, mereka mau menggelontorkan anggaran kampanye sebesar Rp 350 milyar, belum lagi ke 37 partai lainnya baik partai besar maupun kecil.

Nah setelah pesta berlalu kini tinggal sisa-sisanya yang tertinggal, termasuk kisah-kisah pilu orang2 yang kemudian menjadi stres, depresi bahkan kemudian bunuh diri karena tidak kuat menanggung utang maupun malu. Masih mending mereka yang kemudian menjadi pasien bengkel spiritual atau kemudian menjadi mawas diri, adakalanya yang tanpa malu membuat ulah dengan menelan air ludah mereka atau meminta kembali sumbangan yang telah diberikan kepada calon konstituen mereka. Konon omset di pegadaian kota Malang meningkat hingga 75 % untuk bulan Maret dan April 2009. Bisa jadi peningkatan harta titipan tersebut adalah milik caleg. Para caleg gagal ini sudah mempertaruhkan harta dan nama mereka untuk dalam proses mencalonkan diri. Banyak dari mereka yang bangkrut jatuh miskin karena sudah menjual harta benda atau banyak pula yang mengambil hutang dari pihak lain.

Tak kalah pula banyak rumah sakit jiwa yang sudah mengantisipasi bakal terjadinya lonjakan pasien rumah sakit jenis ini. Mereka sudah mempersiapkan tempat tidur kosong yang mungkin akan segera terisi. Bahkan rumah sakit ini banyak yang secara khusus menyediakan kamar spesial yang terjamin aman karena dilengkapi jeruji besi, wah kacian….sudah jatuh tertimpa tangga pula. Nah ini ada tips tambahan dari dokter spesialis kejiwaan kalo ada tetangga atau saudara anda yang mempunyai gejala berikut yaitu gejala mudah cemas, sulit tidur, sesak napas, dan bahkan gatal-gatal tanpa sebab buruan dirujuk ke rumah sakit jiwa terdekat, sebelum terlambat.

Komentar»

1. EU actuará en contra de monopolios | Estas Informado - Mei 11, 2009

[…] Caleg Gagal dan Depresi Keuangan « Pengelolaan Keuangan […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: