jump to navigation

Tetap Bahagia Ketika Tidak Bekerja Mei 10, 2009

Posted by pengelolaan keuangan in Retrospeksi.
trackback

Anda pernah membaca bukunya  Ernie J. Zelinski dengan judul The Joy of  Not Working ? Buku ini sebenarnya sudah diterbitkan cukup lama dan dipandang kontroversial dari sudut pandang masyarakat pada umumnya. Namun  tidak ada salahnya kita memahami konsep berfikir dia tentang dunia kerja dan bagaimana menjadikan kita  tetap sebagai seorang pemenang.  Hebatnya, sebuah buku yang dipandang aneh ini telah dialih bahasakan kedalam 16 bahasa dan telah terjual lebih dari 200.000 ribu kopi. Tidak seperti halnya buku lainnya, buku ini tidak menawarkan bagaimana cara memenangkan memperoleh pekerjaan atau mendapatkan uang atau menawarkan ide bagaimana memenangkan sebuah kompetisi pertarungan. Dia hanya memberikan wawasan bagaimana tetap menang ketika anda tidak bekerja. Konsepsi menang adalah ketika kita tahu tentang makna dari hidup kita. Merasa menang ketika setiap pagi kita tahu kita merasa excited tentang hari itu. Menang ketika kita tahu apa yang akan dilakukan dalam menjalani sisa hidup kita. Buku ini adalah bentuk penuangan dari pendidikan yang dia peroleh. Sebuah pendidikan yang mana tidak dalam pengertian kurikulum seperti yang diajarkan disekolah ataupun kampus pada umumnya. Di usianya yang ke 29 dia kehilangan pekerjaan sehingga titik ini adalah titik balik yang memberikan sebuah pengalaman baru baginya yang akhirnya memberi pemaknaan baru tentang pengertian hidup secara lebih holistik dan  dalam menjalani kehidupan barunya ini ia tetap menjadi pribadi yang bahagia meskipun tanpa bekerja.

Dalam definisi pekerjaan dalam artian yang konvensional seringkali didesain kaku dan membelenggu adanya kebebasan jiwa. Ketika kita mendapatkan sebuah pekerjaan ada banyak makna setelah itu, bisa sebuah perolehan kebanggaan, kebosanan ataupun depresi terutama dalam konsepsi waktu luang kita yang tersisa. Kebanyakan orang menyediakan slot waktu tersendiri yang diluangkan untuk bersantai pada masa yang akan datang, tidak masalah apakah masa mendatang ini masih lama ataupun sebentar lagi datangnya. Ketika waktu pensiun tiba kebanyakan orang diharapkan sudah siap tentang apa yang akan dilakukannya setelah itu. Dari berbagai studi memperlihatkan bahwa kebanyakan orang masih kesulitan dalam mengelola waktu luang yang tersisa, dicontohkan dalam  penelitian yang dilakukan oleh Departemen Perdagangan AS menunjukan bahwa hanya 58 % orang merasakan kepuasan dan dapat mengelola waktu liburnya dengan baik. Itu berarti sisanya sebesar 42 % orang masih harus belajar bagaimana mengatur waktu libur dengan benar. Kebanyakan orang akan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bekerja. Mereka akan selalu berfikir bagaimana menyiapkan pekerjaan, mengatur perjalanan antara rumah dan tempat kerja, membicarakan cara-cara mengelola pekerjaan dengan baik hingga membahas rumor tentang kemungkinan adanya PHK di perusahaan. Jadi banyak orang memang memberikan porsi perhatian tentang dunia kerja lebih banyak daripada porsi lainya dalam mengatur hidup ini secara keseluruhan. sehingga tidak mengherankan ketika tiba saatnya pensiun kebanyakan orang merasa tidak siap. Sebuah studi yang dilakukan oleh Challenger & Christmas, Inc menunjukan bahwa 50 % dari pegawai yang memilih paket pensiun dini, namun setelah 3 bulan menjalani waktu pensiun tersebut mereka merasa tidak bahagia dan memilih bekerja kembali.

Kita dapat merubah kualitas hidup dengan mengubah cara pandang atas setiap kejadian yang terjadi. Dimisalkan ada dua orang dalam kondisi yang sama yaitu sama-sama dipecat dari pekerjaan. Satu orang melihat kejadian itu sebagai sebuah berkah, dan satunya lagi mungkin menganggap sebagai sebuah kutukan. Nah tingkat dimana kita dapat merubah konteks kejadian tersebut adalah tergantung dengan seberapa fleksible pola fikir kita. Atau dengan kata lain adalah seberapa jauh kemauan kita untuk menantang keyakinan dan nilai-nilai yang berlaku. Namun sayangnya kebanyakan orang tidak pernah bertanya bagaimana dan mengapa tentang hal-hal yang kita lakukan. Kita perlu merubah kondisi ini dengan memulai sebuah perubahan pemikiran atau paradigma. Dengan menantang pola pikir yang sudah ada maka diharapkan akan lahir pemikiran-pemikiran baru. Mungkin anda sulit membayangkan bilamana Departemen Tenaga Kerja AS ataupun Kanada mendorong setiap buruh untuk berpikir tentang mempersiapkan waktu liburan bagi mereka. Mungkin kebijakan ini akan mendatangkan banyak kritikan. namun ternyata kebijakan semacam itu pernah benar-benar terjadi, Jepang, misalnya di awal tahun 1990-an pernah mendorong warganya agar lebih meningkatkan kualitas kehidupannya dengan meningkatkan kesadaran akan kebutuhan waktu berlibur. Pemerintah Jepang saat itu membuat banyak poster yang intinya tentang dorongan bagaimana perlunya tambahan waktu istirahat/santai bagi para karyawan, salah satu poster berisi tentang bagaimana membentuk komunitas 5 hari kerja. Selain poster, pemerintah juga mengeluarkan buku panduan dengan judul : ”Try to Best : Salaryman’s guide to Relaxation”. Kini setelah lewat satu dekade orang Jepang terkenal sebagai salah satu bangsa yang doyan bepergian liburan kemanca negara tanpa berkurang etos kerja mereka sebagai bangsa yang tekun dan ulet dalam bekerja.

Waktu senggang/liburan yang tersedia bisa bersifat sementara ataupun tetap. Bersifat sementara karena kita mengambil cuti, istirahat, dsb, dan bersifat tetap karena kita baru saja kena PHK atau dipecat dari tempat kerja. Jadi ilmu dan pengalaman si Zalinsky ini adalah sebuah tambahan wawasan baru bagi kita karena sebenarnya bekerja dan berlibur adalah dua kebutuhan yang bersifat komplementer. Gabungan dari keduanya diharapkan akan melahirkan sebuah  kualitas kehidupan yang lebih baik. Namun yang agak aneh memang Zalinsky ini akhirnya tetap meneruskan berlibur dan tidak mau menjalani pekerjaan dalam semesta pemahaman masyarakat pada umumnya. Dia akhirnya meretas cara pandang baru dalam memahami sebuah arti pekerjaan. Penuangan pengalaman dan pemahamannya sangat bagus bagi masyarakat awam yang menjelang pensiun, tidak bekerja ataupun bekerja berlebihan. Jadi apapun kondisi anda tidak ada salahnya untuk membaca pikiran Zalinsky ini agar kita lebih tahan dan tetap berpikiran konstruktif dalam menghadapi kondisi yang ekstrim sekalipun.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: