jump to navigation

Gajah dan Kuman Juni 7, 2009

Posted by pengelolaan keuangan in Tips Keuangan.
trackback

Mungkin anda membaca judul diatas akan sedikit bingung dan bertanya-tanya, kira-kira apa makna judul tersebut ? braveheartJudul diatas adalah sebuah metafora dari pepatah “Gajah dipelupuk mata tidak tampak, namun kuman diseberang lautan tampak”. Maksudnya adalah adanya perbedaan penafsiran antara realita dan persepsi kita karena ketidakmampuan manusia menakar suatu permasalahan secara obyektif. Didalam keseharian memang sering terjadi kita myopia atau rabun dekat. Kita sering tidak bisa menggolongkan permasalahan yang sebenarnya urgent diabaikan namun masalah yang kurang penting malah mendapatkan porsi perhatian.

Berangkat dari pemikiran tersebut diatas bahwa bila seseorang ingin terjun dalam kegiatan usaha mandiri atau bisnis, ketakutan akan gagal seringkali menjadi momok menakutkan dan mengendurkan nyali. Sikap mental manusia secara psikologis memandang hal-hal yang negatif sering mendapatkan porsi yang lebih termasuk resiko kegagalan. Bagi calon wirausahawan memang hambatan psikologis akan resiko kegagalan sangat menghantui sebelum mengayunkan langkah terjun kedalam dunia bisnis.

Gajah dan kuman adalah sebuah metafora penggambaran mental manusia dalam proses visualisasi sebuah obyek. Manusia kerap berperilaku irasional. Emosi memberi warna dalam membentuk persepsi manusia. Sehingga penilaian suatu obyek menjadi tidak proporsional lagi. Termasuk juga dalam melihat sebuah resiko dari sebuah gagasan.

Ada sebuah teori yang lebih bisa menjelaskan fenomena ketidakseimbangan manusia dalam melihat antara peluang keuntungan VS resiko kegagalan. Orang lebih takut bila mendapatkan kegagalan daripada peluang memperoleh keuntungan. “Teori Harapan” menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya bukanlah membenci ketidakpastian namun lebih pada ketakutan akan kehilangan. Manusia cenderung skeptis melihat perbaikan positif namun lebih mudah memvisualkan kondisi negatif. Oleh karenanya orang lebih suka menghindari kehilangan uangnya yang pasti dibandingkan memperoleh keuntungan. Kerugian lebih konkrit dibandingkan keuntungan.

Ada sebuah pelajaran mengelola resiko dari pemain poker profesional dimana mereka mempunyai kecerdikan bukan melihat dari posisi dan kondisi lawan, namun mereka menang karena disiplin. Para pemain poker yang kalah sering salah menerapkan posisi mereka, membuat taruhan pada saat kartunya buruk dan bertahan pada kondisi bagus. Fenomena ini dapat menjelaskan kenapa kita bertahan pada kondisi dimana kita merasa sukses dan enggan berpindah ke kurva tidaknyamanan (discomfort zones) berikutnya – karena takut akan resiko kehilangan.

Oleh karenanya sangat sedikit perusahaan/organisasi yang bersedia mengorbankan reputasi yang telah diperolehnya untuk menguji ide-ide baru yang mungkin radikal. Mereka lebih senang memastikan memperoleh keuntungan yang sudah pasti meskipun kecil. Sangat sedikit orang yang berani menguji ide karena ketakutan akan dipecat atau dihukum oleh organisasi.

Cara yang mudah untuk mengurangi ketakutan dalam merespon ide baru adalah pengakuan akan ketakutan tersebut. Ketika takut, tubuh manusia merespon dengan reaksi fisiologis, jantung berdetak keras, tekanan darah meningkat, telapak tangan berkeringat dsb. Dengan mengakui akan ketakutan tersebut berarti kita sadar akan resiko kehilangan yang kita pertaruhkan, namun seringkali kondisinya akan berangsur normal kembali ketika tahu bahwa kita akan tetap bertahan bila segalanya akan hilang. Kita memang tidak bisa menghindari ketakutan, namun kita bisa mengelolanya. Ada sebuah percobaan yang dilakukan NASA atas para astronotnya. NASA mencatat dalam perjalanan ruang angkasa, ada sebagian astronot yang terus menerus sakit perut akibat stres dan sebagian astronot lainnya tidak. Perbedaan besar antara dua kelompok astronot ini adalah kelompok kedua yang tidak stres memang sejak awal mengakui akan ketakutan tersebut, sedangkan kelompok pertama tidak.

Kita memang tidak bisa lepas dari emosi termasuk rasa takut karena itu memang fitrahnya, namun dengan bekal rasionalitas dan pengalaman semua ketakutan tersebut dapatlah dikelola. Jadilah manusia Braveherart karena sebenarnya seorang pemberani adalah orang yang mampu menempatkan impiannya diatas rasa takutnya. Jadi wajar dan terima saja bahwa semua orang punya rasa takut, namun takut janganlah menjadi penghalang untuk maju. Bravo –

Sumber: Frans Johansson – The Medici Effect

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: