jump to navigation

Freemium Alias Ekonomi Gratis November 4, 2010

Posted by pengelolaan keuangan in Fenomena Keuangan.
Tags: , , ,
trackback

freeApakah Gratis sepenuhnya Gratis ?
Para pembaca yang budiman, coba deh anda mengisi apa saja kata kunci alias keyword ke mesin pencari, kemudian lihat hasilnya. Akan banyak terpampang situs disitu yang memberikan embel-embel GRATIS atau FREE. Sebuah kata magis diibaratkan ajakan seorang gadis manis yang meminta mampir dan sangat sulit untuk ditolak oleh sang jejaka. Memang kata Gratis atau Free mempunyai daya tarik magis bagi siapapun yang membacanya untuk mampir. Cerita tadi adalah salah satu contoh didunia maya yang menawarkan produk/layanan Gratis. Didunia fana ini juga berjibun tawaran yang sama. Dimall juga banyak berjejer para salesgirl yang menawarkan produk dengan embel-embel Gratis. Kata Gratis memang sudah lama dikenal oleh manusia terutama pakar marketing yang paham akan kehebatannya.

Gratis sampel, tester, hadiah. Gratis sebagai senjata
Ada hal yang saya rasa perlu dishare dengan pembaca sekalian setelah saya membaca terjemahan bukunya Chris Anderson yang bertajuk Gratis Harga Radikal Yang Mengubah Masa Depan. Dalam buku ini seolah kita memasuki dunia baru yang memang berbeda dengan paradigma yang saya pelajari bertahun-tahun dibangku sekolah, karena buku ini mengungkap seperti apa Gratis yang sebenarnya. Lho kok gratis yang sebenarnya ?
Begini ceritanya. Paradigma Gratis untuk produk abad 20 dan produk abad 21 ini memang berbeda jauh. Dalam sebuah contoh, misalkan kita hendak membeli perhiasan di toko perhiasan emas. Pada saat baru lewat didepan salah satu toko kita akan segera ditawari mampir dan kemudian ‘segelas air kemasan Gratis’ segera hadir didepan kita. Sambil bertanya sana sini tentu air kemasan itu segera kita teguk habis karena kehausan. Bisa jadi sebenarnya kita agak kurang sreg dengan perhiasan yang ada diatalase toko tersebut dan ingin segera pergi dari tempat itu, namun karena enggak enak karena harga diri kita sudah tergadai dengan ‘hadiah’ air kemasan tadi. Tentu kejadian berikutnya adalah kemungkinan besar kita akan membeli perhiasan ditoko tersebut bukan ditoko lainnya.

Dibenak saya tentu saja si empunya toko sudah memasukkan harga ‘segelas air kemasan gratis ini sebagai ‘hidden cost’ atau biaya siluman kedalam harga jual produk. Nah, kita sebagai konsumen yang akan menanggung biaya tersebut dalam bentuk besaran rupiah yang akan kita keluarkan dari dompet kita. Jadi kesimpulan disini adalah yang namanya Gratis tidaklah sepenuhnya Gratis, jadi ada hidden cost yang harus konsumen tanggung. Jadi produk abad 20 masih menyisakan beban biaya yang konsumen harus tanggung, jadi tidak semuanya Gratis, tis seperti yang diiklankan. Setuju semuanya ?

Abad kelimpahan
Menurut Chris Anderson ada beberapa perbedaan karakteristik antara produk abad 20 dan abad 21. Produk abad 20 disebutnya adalah produk atom karena terdiri unsur atom, misalkan: air minum (H2O). Sedangkan produk abad 21 tersusun atas unsur bit (binary digit) disebut dengan produk digital atau data/informasi ataupun ada juga sebagian orang menyebutnya dengan konten.

Perbedaan yang lain yang membedakan produk abad 20 dan 21 adalah masalah ketersediaan. Nilai keekonomian suatu produk atau layanan dinilai dari parameter ketersediaan. Produk abad 20 akan dinilai mahal bilamana ketersediaan dipasar adalah langka atau tidak sebanding antara permintaan dan penawaran, sehingga sangat terkait kuat dengan hukum ekonomi pasar. Produk abad 20 dinilai mahal bilamana langka dan demikian pula sebaliknya.
Berbeda dengan produk abad 21, semakin berlimpah, semakin lengkap dan bermanfaat akan semakin mahal. Maka tidaklah mengherankan penyedia barang digital atau produk berbasis bit ini akan berusaha semaksimal mungkin menyediakan informasi yang sangat berlimpah. Semakin berlimpah maka penyedia layanan ini akan dinilai semakin mahal. Di dunia Internet, orang mau menggunakan layanan google karena informasi yang disajikan sangat berlimpah. Contoh lainnya adalah Facebook, di Facebook sangat berlimpah dengan konten dari para facebooker. Setiap pengguna facebook dapat menciptakan konten unik yang berupa ide atau gagasan yang akan mendatangkan tanggapan dalam bentuk konten-konten berikutnya. Sehingga facebook kaya akan konten yang menarik dan akrab dengan penggunanya karena para produsen konten ini notabene adalah teman, kerabat, handai taulan para facebooker.


Terlalu murah untuk dinilai
Yang mengherankan hampir semua layanan dari penyedia produk digital di internet ini membebaskan biayanya alias nol biaya alias gratis. Namun sebenarnya biaya nol bukan berarti gratis sepenuhnya, namun biayanya saking kecilnya mendekati nol sehingga terlalu murah angkanya untuk dinilai. Seperti pembaca sekalian ketahui bahwa didunia digital ini masih kental terkait dengan Hukum Moore. Moore adalah nama dari salah satu pendiri perusahaan Intel yaitu Gordon Moore. Hukum Moore ini menyatakan bahwa dalam setiap delapan belas bulan kecepatan prosesor akan meningkat dua kali lipat. Sehingga harga prosesor semakin lama akan semakin murah dan kemampuan prosesing data yang ditangani semakin besar. Nah kenapa biaya produk digital mendekati nol ? Sebagai ilustrasi adalah sebagai berikut, harga sebuah transistor pada tahun 1961 berharga $ 10. Pada tahun 1968 harga sebuah transistor turun menjadi $ 1. Tujuh tahun kemudian harganya tinggal $ 1 sen. Kemudian teknologi transistor digantikan dengan teknologi chip, dimana satu chip sama kemampuannya dengan 2 juta transistor. Kalau harga 1 chip adalah sekitar $ 300, berarti saat ini harga satu transistor adalah 0,000015 sen. Yang berarti terlalu murah untuk diukur nilainya .

Sekarang keterkaitan antara biaya produksi produk digital yang mendekati nol dengan biaya prosesor apa hubungannya ? Dalam produk digital khususnya di dunia maya sangat erat terkait dengan trio pilar yaitu : kemampuan prosesor, kapasitas menyimpan dan bandwidth yang harganya terus anjlok. Fenomena turunnya biaya produksi ini belum pernah tercatat dalam sejarah manusia dimana biaya produksi yang anjlok sedemikian curamnya hingga nyaris nol. Hal ini yang menyebabkan penyedia layanan di internet dapat membebaskan kita dari kewajiban membayar fee. Oleh karenanya anda dapat mengaplot dan mendonlot sak ‘kemenge’ di Youtube, gratis. Anda dapat mengupdate status di facebook sak dowere’, gratis.

Pembedaan Gratis dan Freemium
Kalau semuanya gratis darimana penyedia layanan ini mendapatkan makan ? ya tentu saja jualan. Jualan yang mana kalau semuanya digratiskan. Nah biaya produksi yang nyaris nol ini kemudian dibebankan kepada pihak konsumen layanan yang menerima manfaat. Ada sebuah paradoksal di dunia keberlimpahan informasi seperti dewasa ini. Disatu sisi pada saat informasi berlimpah tentu saja akan ada kekurangan disisi lain lain yaitu atensi atau perhatian pengguna layanan. Meskipun kini manusia hidup dalam keberlimpahan informasi yang menggunung, sumberdaya dari pengguna adalah tetap terbatas, misalkan waktu yang tersedia untuk mencari informasi. Nah bagaimana mencuri atensi dari pengguna layanan dengan mempertimbangkan kemampuan pengguna yang terbatas inilah yang kemudian dijual, contohnya Google menawarkan layanan kepada pemasang iklan untuk layanan adword misalnya untuk memberikan layanan ‘shortcut’ bagi pemasang iklan. Model strategi lainnya adalah memberikan fitur standar untuk layanan gratis dan layanan premium untuk pelanggan berbayar dan masih ada beberapa strategi lainnya.

Nah bagi anda yang berkecimpung dalam dunia digital, berharap-haraplah cemas karena bisa jadi pesaing anda tidak lama lagi akan memberikan layanan dengan gratis. Desain ulang model bisnis anda sebelum terlambat.

Kayaknya masih banyak informasi yang bisa dishare kepada pembaca sekalian yang masih mau meluangkan waktu untuk membaca artikel hingga titik ini (.) dan saya mungkin masih ingin berbagi tentang dunia gratis ini dalam beberapa artikel berikutnya (semoga saja tidak bosen). Cuma sekarang saya kok jadi berangan-angan kalau semuanya gratis didunia digital, kapan dunia atom akan ikutan gratis. Jadi makan diwarteg atau diwarung padang tidak usah bayar gitu🙂

Sumber: pengelolaankeuangan.com


Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: